Undang-undang Perlindungan Anak menegaskan perlindungan Anak dari kekerasan dan diskriminasi agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimalsesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Kekerasan, perlakuan salah, penelantaran, dan eksploitasi terhadap anak tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Dengan demikian , kekerasan, perlakuan salah, penelantaran, dan eksploitasi terhadap anak merupakan perbuatan melawan hukum dan bisa dipidanakan.
Suatu tindak kekerasan disebut perlakuan salah terhadap anak jika dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan dekat dengan anak, seperti orangtua, kerabat, guru, Pembina kelompok kegiatan, atau orang lebih tua lainnya yang punya hubungan dengan anak. Bentuknya juga bisa secara fisik, psikis, maupun juga seksual. Disebut perlakuan salah atau abuse karena pelaku menyalahgunakan kepercayaan anak kepada dirinya, kekuasaannya atas anak, dan atau posisinya yang lebih kuat terhadap anak secara fisik, mental, maupun sosial. Kekerasan yang dialami anak seringkali terjadi di lingkungan terdekat anak dan tidak jarang pelaku adalah orang terdekat atau orang yang dikenal anak. Kekerasan terhadap anak juga dapat dilakukan oleh sesama anak lainnya. Ada banyak alasan dikemukakan, namun sebagian terbesar bersumber dari ketidakmampuan pelaku dalam mengelola/ mengendalikan emosi atau kemarahannya, serta ketidakpahaman terhadap dampak tindakan kekerasan tersebut terhadap kualitas perkembangan anak dalam jangka panjang.
Anak merupakan salah satu kelompok rentan yang mudah mendapat masalah, termasuk kekerasan, karena itu mereka harus dilindungi dan didukung. Kelompok rentan mesti mendapat perlakuan khusus untuk promosi, pencegahan, pemulihan dan rehabilitasi masalah gangguan kesehatan jiwa dan psikososial. Anak yang mengalami gangguan mental dan gangguan kejiwaan harus mendapat perhatian dan dukungan psikososial dari berbagai pihak utamanya orang-orang terdekat seperti anak pengasuh atau orang tua. Psikososial adalah relasi yang dinamis antara aspek psikologis dan sosial seseorang. Sementara dukungan psikososial adalah segala bentuk dukungan dari lokal maupun pihak luar yang bertujuan untuk menjaga atau mempromosikan kesejahteraan psikososial dan/atau mencegah atau mengatasi gangguan jiwa. Dukungan psikososial dipakai untuk merespons kondisi yang mengintegrasikan pendekatan biologis, psikologis, dan sosiokultural di bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan komunitas, serta untuk menekankan perlunya pendekatan- pendekatan yang beragam dan saling melengkapi dari berbagai profesi dalam memberikan dukungan yang sesuai.
Kekerasan terhadap anak dapat terjadi dalam berbagai bentauk, yatu kekerasn fisik, seksual, emosional, verbal dan penelantaran. Semua bentuk kekerasan berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Misalnya, masalah anak yang mengalami kekerasan seksual bukan hanya masalah fisik, tetapi juga masalah psikologis dan sosial yang akan ditanggungnya seumur hidup. Masalah psikososial yang dialami anak korban kekerasan seksual juga ikut dirasakan oleh keluarga yang anaknya mengalami kekerasan seksual. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan beban bagi keluarga yang tidak ringan dan dapat menyebabkan keluarga mengalami krisis psikologis. Fontaine (2009) menyatakan bahwa beban psikologis seperti ini dapat menyebabkan keluarga mengalami stress emosional sebagaimana bentuk respon keluarga terhadap perasaan duka dan trauma.
Anak-anak yang mengalami kekerasan akan merasakan gangguan psikososial. Kondisi tersebut harus mendapat perlindungan dan dukungan penyembuhan dari orang tua, orang dewasa, dan lingkungan sosialnya. Bentuk dukungan yang diberikan kepada anak korban kekerasan seksual yaitu dalam bentuk dukungan psikososial dimana dukungan ini diharapkan mampu mengatasi masalah psikososial yang ditimbulkan dari kejadian kekerasan seksual pada anak.
Dukungan sosial adalah dukungan dalam bentuk perilaku spesifik yang berasal dari lingkungan di sekitar anak. Dukungan sosial akan mencegah memburuknya kondisi psikologis anak.. Terdapat tiga hal yang membentuk dukungan sosial, yaitu anak merasa dicintai, anak merasa dihargai, dan anak merasa terhubung dengan lingkungan di sekitarnya. Adapun tiga sumber utama dukungan sosial untuk anak, yaitu dari orang tua, guru, dan teman sebaya. Orang tua merupakan sumber dukungan sosial utama yang dikenal oleh anak. Orang tua perlu mengatakan dengan jelas dan menunjukkan perilaku nyata yang membuat anak merasa nyaman dan aman ketika ia menghabiskan waktu bersama orang tua. Hal ini juga akan membuat anak merasa dihargai dan diterima oleh orang tua.
Adapun bentuk perilaku dukungan sosial yang dapat ditunjukkan oleh orang tua kepada anak seperti membantu anak ketika mengalami kesulitan, serta menunjukkan rasa kasih sayang secara lisan dan perilaku secara konsisten. Selanjutnya, guru merupakan sumber dukungan sosial kedua yang mampu mempengaruhi prestasi akademik anak, tingkah laku anak, serta penyesuaian diri anak di satuan pendidikan. Dukungan sosial oleh guru dapat ditunjukkan dengan memberikan dukungan dan arahan yang positif untuk anak dalam hal akademik, menghargai usaha anak dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, memberikan penilaian yang objektif terhadap hasil usaha anak, serta memberikan umpan balik yang membangun potensi anak. Selain orang tua dan guru, peran teman sebaya juga penting untuk menunjukkan dukungan sosial kepada anak. Seiring bertambahnya usia, hubungan anak dengan teman sebaya berkembang lebih kuat dan setara dibandingkan hubungan anak dengan orang tua dan guru. Hubungan dengan teman sebaya yang akrab, hangat, dan saling mendukung dapat membantu anak untuk lebih memahami diri sendiri dan juga mencegah anak mengalami depresi.
Dukungan Psikologis Awal (DPA) adalah sebuah metode untuk membantu seseorang dalam kondisi distres agar mereka merasa tenang dan didukung, guna mengatasi tantangan atau permasalahan mereka dengan lebih baik
Apa itu DPA? DPA merupakan dukungan psikologis awal yang memiliki peran serupa dengan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). DPA dilakukan sebagai upaya untuk memberikan pertolongan awal terhadap individu yang menghadapi masalah sebelum mendapat pertolongan lebih lanjut. DPA dilakukan dalam bentuk pemberian dukungan oleh lingkungan di sekitar individu dalam upaya mengurangi dampak negatif dari masalah yang dihadapi.
DPA telah dikembangkan di banyak negara, termasuk di Indonesia dalam berbagai situasi, seperti intervensi situasi krisis, bencana, dan juga dalam satuan pendidikan. Pada satuan pendidikan, masalah yang dialami peserta didik dapat mengganggu proses belajar dan prestasi akademik dan proses penanganan yang mengabaikan sumber permasalahan menyebabkan masalah tidak terselesaikan secara tuntas. Seperti P3K, DPA juga bisa dilakukan oleh siapapun yang telah mendapat pelatihan keterampilan dalam memberi bantuan DPA, termasuk guru maupun peserta didik di satuan pendidikan. Terdapat sejumlah alasan penting mengapa guru dan peserta didik perlu memiliki keterampilan memberikan DPA, yaitu:
a. Guru dan peserta didik menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sekolah. Terjadi interaksi antara guru dan peserta didik di satuan pendidikan Satuan pendidikan merupakan lingkungan yang dekat dengan keseharian peserta didik sehingga memungkinkan untuk membangun sistem bantuan bertingkat.

b. Masalah yang dihadapi peserta didik dapat diatasi dengan keterlibatan satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat, meskipun tidak semua masalah harus ditangani atau memerlukan campur tangan guru, sekolah atau bahkan tenaga profesional. Peserta didik sendiri maupun lingkungan terdekat lain, misal teman sebaya juga dapat membantu untuk mencegah dan mengurangi dampak negatif dari permasalahan yang dihadapi Guru atau teman sebaya yang telah terampil memberikan DPA memiliki peran penting dalam mengenali peserta didik yang menghadapi masalah dan memberikan pertolongan pertama terkait masalah yang terjadi di satuan pendidikan
Tujuan DPA
DPA dapat diberikan dengan tujuan sebagai berikut:
• Mencegah dan mengurangi dampak yang lebih buruk akibat masalah yang dihadapi.
• Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi.
• Membantu menyelesaikan masalah yang di hadapi sehingga peserta didik dapat kembali melakukan aktivitas secara normal.
Prinsip Dasar DPA
Saat memberikan bantuan DPA, terdapat beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan, yaitu:
• Berikan secara langsung dan sesegera mungkin kepada anak korban kekerasan yang membutuhkan bantuan.
• Berikan perhatian pada anak korban kekerasan yang membutuhkan.
• Membantu anak korban kekerasan mencari informasi terkait masalah yang dihadapi.
• Selalu bersikap jujur, jangan pernah memberikan janji yang tidak bisa kita penuhi.
• Tunjukkan kita memberikan dukungan emosional.
• Mendorong anak korban kekerasan untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
Langkah-Langkah Memberikan DPA
Ketika sedang menghadapi situasi sulit, seringkali peserta didik menjadi lebih sensitif saat berinteraksi dengan orang lain. Pemberian bantuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau disampaikan dengan cara yang tidak tepat dapat membuat situasi yang tidak nyaman antara yang memberikan bantuan dan yang dibantu. Berikut ini adalah langkah-langkah pemberian bantuan DPA:

Langkah Persiapan
Memahami Situasi Sebelum memberikan DPA, kita harus memiliki pengetahuan awal tentang masalah yang dihadapi peserta didik. Upaya mengumpulkan informasi atau pengetahuan awal untuk memahami masalah dapat dilakukan secara langsung melalui pertemuan atau berbicara secara langsung dengan peserta didik maupun mengumpulkan informasi secara tidak langsung dengan mengumpulkan laporan pihak lain yang dapat dipercaya, seperti wali kelas, teman sebangku, dan sebagainya.
Membangun Hubungan Baik
Membangun hubungan yang hangat dan saling percaya merupakan langkah penting dalam proses pemberian DPA untuk mendukung proses pemulihan. Perlu diingat, peserta didik yang sedang menghadapi masalah seringkali membutuhkan waktu untuk sendiri dan menenangkan diri. Hal ini membuat peserta didik kadang menolak kehadiran kita untuk memberikan DPA karena dianggap mengganggu proses tersebut.
Mengenali dan Memberikan Perhatian
Langkah ini dilakukan untuk mengenali dan memenuhi kebutuhan peserta didik yang sedang menghadapi masalah agar merasa aman, nyaman dan tenang. Beberapa contoh aktivitas yang dapat dilakukan :
a. Mengenali anak yang membutuhkan bantuan
b. Menanyakan kondisi peserta didik yang membutuhkan bantuan
c. Mencari tempat yang aman dan nyaman untuk mendengarkan masalah yang dihadapi peserta didik.
d. Memenuhi kebutuhan peserta didik yang dapat segera diberikan, misal minuman
e. Menanyakan masalah atau situasi sulit yang dihadapi peserta didik
Langkah ini merupakan tahapan untuk mengamati kondisi anak. Perubahan apa yang terjadi secara fisik dan mental pada diri anak.

Mendengarkan
Pada tahap ini dapat dilakukan proses pendekatan yang lebih mendalam pada peserta didik yang membutuhkan bantuan, misal menyediakan waktu untuk mendengarkan masalah yang dialaminya. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Memberikan perhatian melalui perkataan dan perbuatan yang tidak menyakiti, menghakimi atau menyinggung perasaan.
• Berbicaralah dengan jelas dan mudah dimengerti peserta didik.
Mengenali dukungan yang dimiliki peserta didik dari lingkungan sekitar.
• Menanyakan keberadaan pihak lain yang dapat membantu atau ingin diberitahu terkait masalah yang sedang dihadapi.
Melakukan
Pada tahap ini, tugas guru maupun teman sebaya yang memberikan DPA adalah memberikan bantuan kepada peserta didik agar dapat berpartisipasi aktif untuk menyelesaikan masalah dengan merencanakan tindakan yang diperlukan.
Adapun aktivitas yang dapat dilakukan dalam langkah ketiga ini adalah:
• Mengenali potensi dan sumber dukungan yang dimiliki anak
• Membantu mencari informasi tentang dukungan yang diperlukan
• Menghubungkan peserta didik dengan sumber dukungan yang dimiliki.
• Mendampingi proses mengelola masalah sekaligus merencanakan tindakan lanjutan
Hubungkan
Merencanakan dukungan lanjutan apabila orang tua masih mengalami kesulitan dalam membantu anak • Menghubungi anggota keluarga lain, guru atau orang tua lain yang dinilai bisa membantu
• Menghubungi pihak yang memiliki kapasitas profesional untuk membantu (misalnya psikolog, dokter, Puskesmas, Puspaga, dan P2TP2A)
Keterampilan Dasar dalam Memberikan Bantuan DPA
Serangkaian keterampilan dasar yang sepatutnya dimiliki guru dan teman sebaya agar memudahkan proses pemberian bantuan DPA, yaitu:
Empati
Empati adalah kesediaan dan upaya seseorang untuk memahami pemikiran, perasaan, dan usaha orang lain dalam menghadapi masalah atau situasi sulit. Berempati merupakan upaya menunjukan dukungan dan keinginan peserta didik yang membutuhkan. Langkah ini sangat penting untuk membangun hubungan baik melalui pemahaman terhadap perasaan atau masalah yang dihadapi dari sudut pandang peserta didik yang membutuhkan bantuan namun tidak larut dengan perasaan yang dialami peserta didik
Mendengar Aktif
Mendengar aktif adalah cara mendengarkan dan menanggapi peserta didik yang membutuhkan bantuan sehingga mereka merasa dipahami dan mau menceritakan masalah yang dihadapi. Langkah ini penting untuk membangun rasa saling percaya antara pihak yang membantu dan pihak yang dibantu.
Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan pada saat mendengar aktif adalah :
• mendengarkan hal yang disampaikan dengan penuh perhatian.
• memperhatikan dengan sungguh-sungguh ketika peserta didik menceritakan masalah yang dihadapi.
• menyampaikan kembali apa yang didengar dengan bahasa yang lebih sederhana tanpa mengubah maknanya. Keterampilan mendengar aktif mencakup kemampuan memahami bahasa, baik verbal dan nonverbal. Selain memahami bahasa verbal maupun non verbal yang ditunjukkan, kita juga dapat menunjukkan respon dengan bahasa verbal, misal bertanya, memberikan respon minimal (“ooh..”, “hmm…”, atau “ya.. ya.. lalu?”). Respon non verbal dapat kita tunjukkan melalui ekspresi wajah, intonasi suara, fokus mendengarkan cerita, menjaga kontak mata, posisi tangan, kaki dan bahu yang rileks, postur tubuh terbuka, dsb
Relaksasi
Relaksasi adalah salah satu cara sederhana untuk mengurangi ketegangan yang dirasakan dan membuat tubuh lebih nyaman. Relaksasi dapat diberikan ketika peserta didik yang membutuhkan bantuan dalam kondisi terkejut, panik, dan histeris
Identifikasi Dini
Merupakan langkah untuk mengenali peserta didik yang membutuhkan bantuan lebih lanjut. Proses ini memungkinkan kita menghubungkan peserta didik yang kepada layanan bantuan yang tepat untuk mengatasi masalah mereka. Langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipasi dan pencegahan kondisi yang lebih buruk
Apa yang orangtua/pengasuh perlu lakukan jika anaknya atau mengetahui ada anak yang mengalami kekerasan & perlakuan salah ?
Amankan dan Kendalikan Diri
✔ Jangan panik, usahakan untuk bisa tetap bersikap tenang dan tidak terbawa emosi.
✔ Pastikan anak telah dipisahkan dari sumber ancaman, minta bantuan sekitar jika perlu
(keluarga, tetangga, teman).
Berikan Dukungan
· Dengarkan anak, tanggapi dengan sungguh-sungguh, dan hindari kata-kata atau sikap yang menyalahkan anak.
· Coba mengerti perasaan dan keadaan anak, tenangkan dan yakinkan bahwa anda akan membantu dia menghadapi masalahnya, beri dukungan emosional yang dia butuhkan.
· Dampingi anak selama Ia membutuhkan, terutama di masa-masa awal hingga ia bisa melewati masa sulit akibat pengalaman buruknya.
Tangani
· Jangan malu, ragu, takut untuk melindungi atau melapor pada yang berwajib jika mencurigai, melihat, mendengar adanya tindak kekerasan pada anak.
· Jika ada yang cedera dan butuh tindakan medis segera, bawa ke puskesmas/klinik/rumah sakit.
· Anak siapa pun yang mengalami kekerasan itu, hati-hati dengan soal privasi dan kerahasiaan, agar tidak menyulitkan atau menyebabkan kerugian lebih jauh bagi anak dan keluarganya.
Laporkan
· Jangan biarkan atau diamkan, karena kejadian serupa mungkin bisa terulang.
· Laporkan ke RT, RW, aparat desa/kelurahan, petugas keamanan/satpam setempat.
· Kontak dan laporkan ke pihak atau lembaga yang anda tahu yang bisa memberikanlayanan perlindungan anak, misalnya: Pekerja Sosial (Sakti Peksos) dan Pendamping PKH; PKSAI (Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif); P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak); Petugas/Kantor Polisi setempat atau ke Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) di Polres, atau Lembaga layanan lainnya yang ada di masyarakat.
Referensi :
Kemendikbud (2018) Pengembangan Model Dukungan Psikologis Awal Bagi Pendidikan Anak dan Remaja.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga
Kemendikbud (2020) Mengenal Dukungan Psikologis Awal (DPA). Direktorat PAUD