Skip to main content
Completion requirements

Keadaan darurat seperti bencana alam dan pamdemi COVID-19 yang dialami sekarang ini, meningkatkan risiko anak mengalami kekerasan, eksploitasi, atau penelantaran. Menurut data kemenPPPA, pada tahun Januari-September 2021 jumlah kekerasan pada anak sebanyak 9.428 kasus dan 652 kasus diantaranya adalah kasus penelantaran anak. Tidak menutup kemungkinan angka tersebut terus bertambah seakan berjalannya waktu (CNN Indonesia, 2021).

            Penelantaran adalah tidak dilakukannya kewajiban dan tanggung jawab orang tua atau pengasuh yang bertanggungjawab atas anak dalam memenuhi kebutuhan dasar anak
secara wajar, termasuk kasih sayang dan perhatian (Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, 2020). Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 angka 6 anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Menurut David, Penelantaran adalah kegagalan orang tua atau wali untuk memenuhi kebutuhan anak dalam aspek (i) fisik, (ii) emosional, (iii) kognitif, (iv) pendidikan, (v) sosial, dan/atau (vi) budaya (Howe, 2005).

            Orang tua kadang melakukan melakukan penelantaran tanpa menyadarinya atau menggangkap hal tersebut hal yang biasa, sebagai dampak dari keadaan kehidupan keluarga. Walaupun ada larangan dan sanksi, tindakan penelantaran sering diabaikan dan tidak dilaporkan karena dalih urusan keluarga atau tidak langsung mencederai anak, padahal hal ini berdampak sangat buruk terhadap kualitas tumbuh kembang anak dan kehidupan anak dalam jangka pandang.

Jenis Penelantaran Terhadap Anak

1.     Penelantaran Fisik

Penelantaran fisik terjadi jika seseorang melalaikan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan anak yang bersifat fisik. Misalnya: tidak memberikan makanan yang sehat dan bergizi, tidak memperbolehkan anak bermain, membiarkan dalam situasi berbahaya.

2.     Penelantaran Spiritual

Penelantaran spiritual dapat terjadi jika orang tua lalai atau tidak mengenalkan nilai baik dan buruk sehingga anak tidak pernah tahu atau memahami nilai-nilai kehidupan. Bentuknya bisa dengan membiarkan perilaku anak tanpa koreksi atau penghargaan, menyalahkan tanpa mengenalkan yang benar.

3.     Penelantaran Mental

Keterlantaran mental dapat terjadi jika orang tua/pengganti orang tua tidak memberikan pendidikan, kasih sayang, perhatian kepada anak. Begitu pula jika anak tidak didengar pendapatnya adalah bentuk penelantaran secara mental.

4.     Penelantaran Sosial

Jika anak tidak terpenuhi kebutuhankebutuhan terkait dengan hubungan dengan orang lain seperti: ditinggal pergi dan sendirian, didiamkan oleh orang lain dalam kurun waktu tertentu, tidak dipedulikan.

5.     Pembiaran

Pembiaran adalah tidak dilakukannya tindakan ketika diketahui seorang anak sedang membutuhkan pertolongan atau bantuan karena terancam kesejahteraan fisik dan mentalnya.

6.     Pembahayaan

Pembahayaan adalah tindakan orang tua / atau dewasa yang dengan sengaja atau tidak sengaja menaruh anak pada situasi yang membahayakan keselamatan fisik dan mentalnya.

Faktor Risiko Penelantaran Terhadap Anak

·       Faktor Anak

Perilaku anak dapat menjadi faktor risiko penelantaran. Anak yang menunjukkan gangguan perilaku, kemampuan sosial yang , berisiko lebih tinggi untuk mengalami penelantaran (Schumacher dkk., 2001). Bentuk-bentuk kecacatan tertentu pada anak dapat berkontribusi pada faktor risiko penelantara. Anak-anak penyandang disabilitas (kecacatan fisik, intelektual, atau mental) lebih rentan terabaikan dibandingkan dengan anak-anak tanpa disabilitas (Jones dkk., 2012).

·       Faktor Orang Tua

Isolasi sosial, pengalaman negatif orang tua di masa kecil, kurangnya pengetahuan dan keterampilan orang tua, penggunaan zat psikoaktif, kegiatan kriminal, masalah perjudian hanya beberapa faktor orang tua yang meningkatkan risiko penelantaran anak. Faktor-faktor ini mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memahami kebutuhan anak serta kemampuan membangun ikatan yang aman dan stabil dengan anak. Anak dengan orang tua muda memiliki risiko penelantaran yang lebih besar karena keterampilan dan pengalaman hidup yang terbatas, rendahnya tingkat finansial keluarga pada orang tua muda. Stress orang tua, rendahnya self-esteem, kesulitan regulasi emosi, pengangguran, dan kurangnya dukungan sosial, masalah kesehatan mental pada orang tua juga menjadi faktor risiko penelantaran terhadap anak. Meskipun penelantaran terhadap anak ditentukan oleh beberapa faktor, faktor dari orang tua lah yang paling signifikan pengaruhnya (Avdibegović & Brkić, 2020; Parkinson dkk., 2017; Schumacher dkk., 2001).

·       Faktor Keluarga

Dari banyaknya faktor risiko yang terkait dengan keluarga, yang paling banyak diteliti adalah struktur dan jumlah anggota keluarga, hubungan dalam keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, dan status sosial ekonomi keluarga. Kualitas hubungan orang tua dan anak merupakan faktor penting terutama dalam penelantaran emosional atau mental. Secara konsisten ditemukan dalam literatur bahwa status sosial ekonomi yang rendah dikaitkan dengan risiko penelantaran yang lebih tinggi (Parkinson dkk., 2017).

·        Faktor Lingkungan

Lingkungan yang tidak kondusif, status sosial ekonomi yang rendah, dukungan masyarakat yang buruk, layanan dukungan sosial yang kurang berkembang atau tidak dapat diakses, tingginya konsumsi alkohol merupakan faktor risiko pada lingkungan sekitar keluarga yang dapat berkontribusi terhadap penelantaran terjadinya anak. Norma budaya dan sosial, serta keyakinan agama, dapat memengaruhi perilaku orang tua, pengasuhan, dan persepsi mereka tentang anak yang dapat meningkatkan risiko penelantaran anak (Parkinson dkk., 2017).

Dampak Penelantaran Terhadap Anak

Berdasarkan hasil penelitian selama ini, terlihat jelas bahwa akibat dari penelantara adalah berjangka panjang. Periode dari lahir hingga dewasa ditandai dengan perkembangan fisik, emosional, kognitif, dan sosial yang progresif. Pertumbuhan dan perkembangan anak tergantung pada beberapa faktor, di antaranya faktor-faktor penting yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar seperti nutrisi yang cukup, dukungan emosional, kebersihan anak, perawatan kesehatan, perawatan kesehatan mental, stimulasi kognitif, struktur keluarga dan kondisi hidup yang aman. Sehingga penelantaran terhadap anak dapat mempengaruhi semua aspek perkenbangan – fisik, psikologis, emosional, perilaku, dan sosial – yang semuanya saling terkait. Menurut Child Family Community Australia (2014), berikut adalah dampak penelantaran terhadap anak:

·       Masalah keterikatan dan hubungan interpersonal

Pola keterikatan pengasuh anak sangat penting untuk perkembangan emosional dan sosial awal anak. Untuk anak dengan insecure attachment, orang tua/pengasuh, yang seharusnya menjadi sumber utama keamanan, perlindungan dan kenyamanan, menjadi sumber bahaya. Tanpa keamanan dan dukungan dari pengasuh utama, bayi dan bayi mungkin merasa sulit untuk mempercayai orang lain ketika dalam kesusahan, yang dapat menyebabkan pengalaman kecemasan atau kemarahan yang terus-menerus.

Keterikatan yang tidak aman mengubah proses perkembangan normal untuk anak-anak, yang dapat sangat mempengaruhi kemampuan anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dan membentuk hubungan yang sehat sepanjang hidup. Tinjauan literatur telah melaporkan bahwa penganiayaan anak dikaitkan dengan hubungan teman sebaya yang bermasalah di masa kanak-kanak dan remaja. Lebih jauh lagi, kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya mungkin merupakan awal dari kesulitan dalam hubungan romantis.

·       Masalah belajar dan perkembangan

Asosiasi yang kuat telah ditemukan antara penganiayaan anak dan kesulitan belajar dan/atau prestasi akademik yang buruk. Studi penelitian prospektif secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak yang dianiaya memiliki prestasi pendidikan yang lebih rendah daripada kelompok anak-anak lainnya.

·       Masalah kesehatan mental

Masalah kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan, secara konsisten dikaitkan dengan pelecehan dan penelantaran anak, terutama untuk remaja. Anak yang ditelantarkan yang mengalami gejala PTSD juga sering ditemukan mengalami gangguan lain seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, gangguan perilaku dan pembangkangan oposisi, penyalahgunaan zat, dan kecemasan, mood, psikotik, dan gangguan penyesuaian. Gangguan makan, termasuk anoreksia dan perilaku binge-purge (bulimia), juga dapat dikaitkan dengan penelantaran anak.

·       Bunuh diri remaja

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penelantaran anak secara signifikan meningkatkan risiko ide bunuh diri dan percobaan bunuh diri bagi kaum muda.

·       Alkohol dan penggunaan narkoba lainnya

Efek psikologis dari penelantaran anak dapat menyebabkan masalah penyalahgunaan alkohol dan narkoba pada masa remaja dan dewasa. Bukti menunjukkan bahwa semua jenis kekerasan terhadap anal anak secara signifikan terkait dengan tingkat penggunaan zat yang lebih tinggi (tembakau, alkohol dan obat-obatan terlarang).

·       Masalah perilaku

Semakin dini anak-anak mengalami kekerasan, semakin besar kemungkinan mereka untuk mengembangkan masalah perilaku pada masa remaja. Para peneliti sering mengaitkan penelantaran dengan perilaku internalisasi (menyendiri, sedih, terisolasi dan tertekan) dan perilaku eksternalisasi (menjadi agresif atau hiperaktif) sepanjang masa kanak-kanak hingga dewasa.

·       Agresi, kekerasan dan aktivitas kriminal

Selain merasa sakit dan menderita sendiri, anak-anak yang terpapar kekerasan dan penelantaran memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menimbulkan rasa sakit pada orang lain dan mengembangkan perilaku agresif dan kekerasan pada masa remaja. Sebuah studi National Institute of Justice di Amerika Serikat memperkirakan bahwa anak-anak yang dilecehkan dan diabaikan 11 kali lebih mungkin ditangkap karena perilaku kriminal pada masa remaja.

·       Masalah kesehatan fisik

Penelitian yang dilakukan oleh Flaherty dkk. (2006) menemukan bahwa paparan satu pengalaman buruk melipatgandakan kemungkinan anak-anak memiliki kesehatan fisik yang buruk secara keseluruhan pada usia 6 tahun, dan tiga kali lipat jika anak-anak telah mengalami empat atau lebih pengalaman buruk. Sebuah studi lebih lanjut oleh Hussey dkk. (2006) menemukan bahwa semua jenis kekerasan dan penelantaran dikaitkan dengan 8 dari 10 risiko kesehatan pada remaja.

·       Tunawisma

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja mungkin mengalami tunawisma atau ketidakstabilan tempat tinggal sebagai akibat dari pelecehan dan penelantaran. Anak-anak muda yang dikeluarkan dari pengasuhan orang tua mereka karena pelecehan atau pen juga dapat menghadapi pelantaran tunawisma dan pengangguran segera setelah meninggalkan pengasuhan di luar rumah seperti pantii asuhan (misalnya, ketika mereka berusia 18 tahun). Kurangnya dukungan sosial dan prestasi akademik yang buruk sering berkontribusi pada kesulitan yang dihadapi kaum muda dalam menemukan tempat tinggal yang layak dan pekerjaan.

Upaya Pencegahan Penelantaran Terhadap Anak

            Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penelantaran terhadap anak (Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, 2020):

·       Orangtua/pengasuh membangun pemahamannya tentang kebutuhan dasar anak
dalam proses tumbuh-kembang (kasih sayang, sandang, pangan, dan papan).

·       Orangtua/pengasuh membangun pemahaman tentang keseimbangan antara aspek
fisik, psikis/mental, sosial, dan spiritual dalam tumbuh-kembang anak.

·       Orangtua membangun keterampilan dalam mengasuh anak, yang meliputi, antara
lain:

o   Meluangkan waktu untuk bersama dengan anak.

o   Berbagi tugas dalam mengasuh anak.

o   Memberi pengertian tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

o   Membuat aturan bersama dalam keluarga yang didiskusikan bersama anak dan
dijalankan oleh semua anggota keluarga.

o   Memperhatikan pergaulan, kebiasaan, dan minat serta bakat anak.

o   Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.

o   Mencari bantuan/dukungan dari pihak lain ketika menemui masalah (kerabat,
tetangga, pendamping PKH, Sakti Peksos, TKSK, dll).

·       Memperkuat keterlibatan dan dukungan dari keluarga besar/kerabat dalam
pengasuhan anak, termasuk saat orangtua tidak berada di rumah atau berhalangan
menjalankan tugasnya secara penuh karena berbagai alasan.

·       Advokasi penyediaan fasilitas perawatan anak yang aman di tempat kerja ketika
orangtua bekerja.

·       Adapun pengadaan program kunjungan rumah khusus, terutama dengan perawat yang mendukung orang tua pada masa pre-natal dan setelah bayi lahir, telah menunjukkan hasil yang positif dalam mengurangi angka penelantaran terhadap anak (Eckenrode dkk., 2017; Olds dkk., 1994).

 

Referensi

Avdibegović, E., & Brkić, M. (2020). Child Neglect—Causes and Consequences. Psychiatr Danub, 32(Suppl 3), 337–342.

Child Family Community Australia. (2014, Januari 28). Effects of child abuse and neglect for children and adolescents [Text]. Child Family Community Australia. https://aifs.gov.au/cfca/publications/effects-child-abuse-and-neglect-children-and-adolescents

CNN Indonesia. (2021, November 2). Kekerasan Terhadap Anak Meningkat Selama Pandemi. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211102142206-20-715544/kekerasan-terhadap-anak-meningkat-selama-pandemi

Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak. (2020). Pencegahan Penelantaran dan Eksploitasi Terhadap Anak. Kementerian Sosial Republik Indonesia. https://kemensos.go.id/uploads/topics/15870130163297.pdf

Eckenrode, J., Campa, M. I., Morris, P. A., Henderson, C. R., Bolger, K. E., Kitzman, H., & Olds, D. L. (2017). The Prevention of Child Maltreatment Through the Nurse Family Partnership Program: Mediating Effects in a Long-Term Follow-Up Study. Child Maltreatment, 22(2), 92–99. https://doi.org/10.1177/1077559516685185

Flaherty, E. G., Thompson, R., Litrownik, A. J., Theodore, A., English, D. J., Black, M. M., Wike, T., Whimper, L., Runyan, D. K., & Dubowitz, H. (2006). Effect of early childhood adversity on child health. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, 160(12), 1232–1238. https://doi.org/10.1001/archpedi.160.12.1232

Howe, D. (2005). Child Abuse And Neglect: Attachment, Development And Intervention (2005°). Red Globe Pr. http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?md5=2A6A0FDB29665497E9FBDCDC70A0933B

Hussey, J. M., Chang, J. J., & Kotch, J. B. (2006). Child maltreatment in the United States: Prevalence, risk factors, and adolescent health consequences. Pediatrics, 118(3), 933–942. https://doi.org/10.1542/peds.2005-2452

Jones, L., Bellis, M. A., Wood, S., Hughes, K., McCoy, E., Eckley, L., Bates, G., Mikton, C., Shakespeare, T., & Officer, A. (2012). Prevalence and risk of violence against children with disabilities: A systematic review and meta-analysis of observational studies. Lancet (London, England), 380(9845), 899–907. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(12)60692-8

Olds, D. L., Henderson, C. R., & Kitzman, H. (1994). Does prenatal and infancy nurse home visitation have enduring effects on qualities of parental caregiving and child health at 25 to 50 months of life? Pediatrics, 93(1), 89–98.

Parkinson, S., Bromfield, L., McDougall, S., & Salveron, M. (2017). Child Neglect: Key Concepts and Risk Factors. Australian Centre for Child Protection.

Schumacher, J. A., Slep, A. M. S., & Heyman, R. E. (2001). Risk factors for child neglect. Aggression and Violent Behavior, 6(2–3), 231–254. https://doi.org/10.1016/S1359-1789(00)00024-0

Last modified: Wednesday, 26 January 2022, 11:35 AM