Skip to main content
Completion requirements

Salah satu bentuk kekerasan terhadap anak yang meningkat pada masa pandemi ini adalah kekerasan verbal terhadap anak yang sebenarnya secara tidak sadar sering dilakukan oleh para orang tua di rumah. Menurut data yang dikeluarkan oleh Wahana Visi Indonesia pada Mei 2020, terhadap 61,5 persen anak Indonesia yang mengalami kekerasan verbal selama pandemi COVID-19 (Adilah, 2020). Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) bentuk kekerasan psikis atau emosional yang dialami oleh anak-anak selama pandemi COVID-19, bentuk kekerasan yang paling sering terjasi adalah kekerasan verbal pada anak :

 

 Sumber

https://bankdata.kpai.go.id/files/2021/02/Hasil-Survei-KPAI-2020-Pemenuhan-dan-Perlidunga-di-Masa-Covid-19.pdf

Kekerasan verbal terhadap anak adalah kekerasan yang dilakukan secara lisan yang menimbulkan konsekuensi emosional yang merugikan dan menyebabkan terhambatnya perkembangan pada anak. Kekerasan verbal termasuk dalam kekerasan emosional atau psikis pada klasifikasi penghinaan atau humaliation. Beberapa bentuk kekerasan verbal yang sering terjadi pada anak adalah mengancam, membandingkan, mengintimidasi, memfitnah, menghina, membesar-besarkan masalah yang dilakukan anak, membentak, dan sebagainya. Kondisi ini biasanya berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasi anak dari hubungan sosialnya, atau menyalahkan anak secara terus menerus (Anastasia dkk., 2021; Mahmud, 2020)

Faktor-faktor Risiko Kekerasan Verbal Pada Anak
  1. Faktor Orang Tua

Orang tua dengan penghasilan rendah cenderung berperilaku negatif seperti lebih cenderung marah, tertekan, dan frustasi yang mengarah ke kekerasan verbal pada anak. Pengetahuan orang tua tentang tumbuh kembang anak sangat mempengaruhi terjadinya kekerasan verbal pada anak. Sebagian besar orang tua yang tidak atau kurang memiliki pengetahuan tentang kebutuhan perkembangan anak, kemudian cenderung melakukan kekerasan verbal terhadap anaknya. Misalnya, orang tua terkadang memaksa anaknya untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak. Sehingga orang tua terkadang memiliki ekspektasi yang tidak realistis tentang kondisi perkembangan anak seusianya. Karakter orang tua juga menjadi salah tua penyebab munculnya perilaku kekerasan verbal pada anak. Orang tua yang memiliki karakter yang keras memiliki potensi yang besar untuk melakukan kekerasan verbal terhadap anak. Hal ini juga dipengaruhi oleh pola asuh yang didapatkan dari orang tua sebelumnya. Pengalaman orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku orang tua dalam melakukan kekerasan verbal pada anak pra-sekolah.

2.     Faktor Anak

Anak menunjukkan perilaku yang dianggap buruk oleh orang tua karena ingin menarik perhatian dari orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Anak memunculkan perilaku buruk tersebut karena tidak pernah mendapatkan penghargaan atau pun perhatian dari orang tuanya. Kekerasan verbal juga dapat muncul karena anak menunjukkan ketidakmampuan dalam menyelesaikan suatu tugas yang terbilang mudah bagi orang tua.

3.     Lingkungan

Lingkungan yang baik akan mencegah terjadinya kekerasan verbal terhadap anak dan sebaliknya lingkungan yang tidak kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak serta kurangnya penerimaan orang tua terhadap semua kelebihan dan kekurangan anak akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kekerasan verbal pada anak.

Dampak Kekerasan Verbal Pada Anak

            Proses tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh rangsangan yang diterima dari lingkungannya. Prosesnya, termasuk pembentukan karakter anak, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Sehingga jika anak mendapatkan kekerasan verbal secara terus menerus, maka akan menyebabkan terhambatnya perkembangan anak. Berikut beberapa contoh dampak dari kekerasan verbal pada anak (Anastasia dkk., 2021; Mahmud, 2019):

1.     Gangguan proses belajar

Anak yang mengalami kekerasan verbal ditemukan mengalami gangguan dalam proses belajarnya seperti lemah dan berhitung dan kesulitan berkonsentrasi yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik anak.

2.     Gangguan emosi

Gangguan emosi ini ditandai dengan anak menjadi lebih sensitif, lebih mudah menangis, dan ingatan mengalami kekerasan verbal yang selalu muncul. Anak juga mengalami perkembangan konsep diri yang kurang baik, dimana anak merasa dirinya jelek, tidak dibutuhkan, tidak dicintai, tidak bahagia, dan tidak menyukai aktivitasnya. Dimana hal tersebut dapat berujung pada anak mencoba untuk melakukan bunuh diri karena merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.  

3.     Gangguan perilaku

Anak-anak cenderung lebih cepat meniru apa yang mereka lihat dari lingkungannya. Ketika seorang anak mendapatkan kekerasan secara verbal, kemungkinan besar anak tersebut akan melakukan hal yang sama ketika dewasa. Anak akan lebih agresif terhadap teman-teman sebayanya dan bisa saja menjadi pelaku kekerasan verbal pada teman sebayanya karena meniru perilaku orang tua di rumah. Hal ini tentu saja akan berdampak pada hubungan sosialnya dengan lingkungannya. Selain itu, gangguan perilaku yang dapat terjadi pada anak adalah suka mengompol, sulit tidur, hiperaktif, dan tantrum.

Pencegahan Kekerasan Verbal Pada Anak

Banyaknya dampak kekerasan verbal pada anak menuntut peran orang tua, guru, dan masyarakat. Keluarga yang selalu berinteraksi dengan anak juga harus diedukasi tentang dampak kekerasan verbal. Upaya pencegahan juga sebaiknya dilakukan sejak dini, yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kekerasan verbal terhadap anak adalah dengan memperbaiki cara komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini bisa dilakukan dengan mempositifkan bahasa dalam berkomunikasi dengan anak. Penelitian Saudah (2014) menunjukkan bahwa penggunaan bahasa positif berdampak pada pola pikir positif dan perilaku positif anak seperti toleran terhadap teman, percaya diri, kemampuan untuk bekerja sama atau teamwork, dan selalu berpikiran positif.

Selain itu, Bustan dkk. (2017) mengemukakan bahwa salah satu hal yang harus diperhatikan saat berkomunikasi dengan anak adalah pengendalian emosi. Orang tua harus mampu mengendalikan emosi ketika berkomunikasi dengan anak, khususnya jika kondisi kurang menyenangkan seperti ketika anak membuat kesalahan, maka jangan langsung menyalahkan sang anak. Sebaiknya tanyakan terlebih dahulu alasan mengapa sang anak melakukan hal tersebut. Lalu berikan arahan dan pengertian kepada anak agar sang anak mengerti bahkan hal yang dilakukan adalah sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan.

Orang tua juga dapat belajar dari pengalaman masa lalu yang didapatkan karena pola asuh yang pernah didapatkan. Orang tua sebaiknya tidak mengulang kesalahan yang sama terhadap anaknya. Orang tua diharapkan bisa menjadi pemutus mata rantai dari kekerasan verbal yang pernah didapatkan di masa lalu.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah orang tua dan guru memahami bahwa setiap anak memiliki bakat dan minat di bidangnya masing-masing. Ketika anak menunjukkan ketidaktertarikan dan ketidakmampuannya pada bidang yang diharapkan, makan orang tua dan guru jangan terburu-uru mencela dan membandingkan anak karena kegagalannya. Ketika anak tidak mampu menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan matematika bukan berarti anak pantas untuk dicela karena kegagalannya, karena bisa saja anak tersebut mampu melakukan sesuatu yang berhubungan dengan bahasa atau seni, seperti menceritakan cerita secara detail dan beruntun dalam bahasa asing atau melukis dengan tingkat detail yang diatas rata-rata usianya.

Orang tua dan guru juga dapat memulai kebiasaan meminta maaf kepada anak jika telah melakukan kekerasan verbal dan berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama dikemudian hari. Ketika orang tua atau guru melakukan kekerasan verbal kepada anak, hal tersebut melukai perasaan sang anak yang nantinya mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Sehingga, orang tua dan guru tidak perlu sungkan untuk meminta maaf kepada anak (Mahmud, 2020).

Dari aspek anak, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kekerasan verbal adalah melalui pendidikan ramah anak dalam keluarga dan metode pembalajaran berbasis karakter. Pendidikan ramah anak yang dapat dilakukan dalam keluarga adalah melaksanakan komunikasi dengan seimbang antara orang tua dan anak, menerapkan disiplin terhadap kekerasan, dan penerapan pembinaan kepribadian positif terhadap anak.

Menurut (Iwaniec, 2006), Pendekatan cognitive-behavioural dapat dilakukan untuk mengatasi kekerasan verbal pada anak. Dimana orang tua menyesuaikan sikap dan persepsinya terhadap tugas dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan kesadaran akan kebutuhan perkembangan anak, mengidentifikasi masalah dalam mendidikan anak, dan menyusun pola asuh yang memfasilitasi perubahan positif.

Selain itu, pendakatan psikodinamika juga bisa dilakukan dengan meningkatkan hubungan orang tua dengan anak, serta kelekatan orang tua dengan anak. Tujuan lebih luasnya adalah untuk memberikan hubungan saling percaya dengan saling merhormati dan perolehan keterampilan perilaku yang diperlukan untuk berhubungan dengan orang lain (Iwaniec, 2006).

Dengan memberikan pendidikan yang layak kepada anak sejak usia dini, mereka dapat menanamkan perilaku positif pada anak-anak mereka secara konsisten sepanjang hidup mereka. Lahirnya generasi ramah anak dalam dirinya juga memutus mata rantai kekerasan terhadap anak, karena pendidikan dengan kekerasan akan mempengaruhi tahapan perkembangan anak dan tahapan kehidupan anak mulai dari remaja hingga dewasa.

Referensi

Adilah, R. Y. (2020, Juli 20). Kemenkes Sebut 62 Persen Anak Alami Kekerasan Verbal Selama Pandemi. Merdeka.Com. https://www.merdeka.com/peristiwa/kemenkes-sebut-62-persen-anak-alami-kekerasan-verbal-selama-pandemi.html

Anastasia, Muhammad, H. T. W., Alviani, D. T., & Herdiana, I. (2021, September 13). Mengenal Kekerasan Verbal dan Kinerja Kognitif Anak Selama Pandemi. Unair News. http://news.unair.ac.id/2021/09/13/mengenal-kekerasan-verbal-dan-kinerja-kognitif-anak-selama-pandemi/

Bustan, R., Nurfadilah, N., & Fitria, N. (2017). Pelatihan Optimalisai Tumbuh Kembang Anak pada Orangtua Anak Usia Dini. JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA, 3(3), 274–282. https://doi.org/10.36722/sh.v3i3.214

Iwaniec, D. (2006). The emotionally abused and neglected child: Identification, assessment and intervention : a practice handbook. John Wiley. http://site.ebrary.com/id/10308279

Mahmud, B. (2020). Kekerasan Verbal pada Anak. AN-NISA : Jurnal Studi Gender Dan Anak, 12(2), 689–694. https://doi.org/10.30863/annisa.v12i2.667

Saudah, S. (2014). BAHASA POSITF SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MORAL ANAK. . . Volume., 14, 18.

Last modified: Tuesday, 25 January 2022, 10:59 AM