Skip to main content
Completion requirements

Kekerasan yang dialami oleh anak akan selalu meninggalkan luka bagi si anak. Namun yang perlu diketahui, luka tersebut tidak selalu dapat terlihat, namun bisa saja tidak terlihat dan tetap berdampak pada diri anak. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi?

 KEKERASAN EMOSIONAL

Kekerasan emosional (atau juga biasa disebut kekerasan psikologis) merupakan salah satu jenis kekerasan yang dapat dialami oleh anak ketika orang tua (atau orang lain yang bertanggung jawab) gagal dalam memberikan stimulasi tumbuh kembang anak sesuai dengan perkembangannya, kurangnya lingkungan yang mendukung atau tidak adanya figur kelekatan (attachment primer), sehingga kompetensi emosi dan sosial tidak dapat berkembang stabil sesuai dengan potensi diri dan tuntutan masyarakat di mana anak tinggal. Hal ini dapat terjadi dalam bentuk seperti permusuhan atau penolakan perawatan, memutus komunikasi, meremehkan, merendahkan, mengkambing hitamkan, mengancam, menakuti-nakuti, mendiskriminasi, perkataan yang menyudutkan atau menyalahkan anak atas perlakuan anak, mengejek, mengkritik yang berlebihan, memberi nama (labelling) yang tidak menyenangkan, menghina, mengancam, dan lain sebagainya (Kurniasari, 2019).

 

BENTUK KEKERASAN EMOSIONAL

Seperti yang sudah disebutkan diatas, kekerasan emosional dapat terjadi dalam banyak bentuk. Karena itu, Azevedo & Viviane (2008) mengklasifikasikan bentuk dari kekerasan emosional pada anak sebagai berikut (Maknun, 2017):

1.       Indifference (tidak peduli)

Bentuk dari kekerasan emosional ini tampak dari perbuatan seperti tidak berbicara kepada anak kecuali jika perlu, mengabaikan kebutuhan anak, tidak merawat, tidak memberi perlindungan dan kurangnya interaksi dengan anak.

2.       Humiliation (penghinaan)

Berbeda dengan bentuk sebelumnya, bentuk kekerasan emosional yang ini biasanya diucapkan secara verbal, seperti menghina, mengejek, menyebut nama-nama yang tidak pantas, membuat mereka merasa kekanak-kanakan, menentang identitas mereka, martabat dan harga diri anak, mempermalukan dan sebagainya.

3.       Isolation (mengisolasi)

Bentuk dari kekerasan emosional ini terjadi apabila anak dijauhkan dari teman-temannya, anak tidak dapat berhubungan dengan orang lain, anak dikurung sendiri dan sebagainya.

4.       Rejection (penolakan)

Bentuk dari kekerasan emosional ini seperti menolak atau mengabaikan kehadiran anak, tidak menghargai gagasan dan prestasi anak, mendiskriminasi anak.

5.       Terror (teror)

Bentuk dari kekerasan emosional ini dapat menimbulkan situasi yang menakutkan bagi anak, rasa khawatir dan sebagainya.

Selain itu, Sinclair (1998) juga mengklasifikasikan kekerasan psikologis pada anak sebagai berikut (Maknun, 2017):

1.       Ancaman dan Teror

Bentuk dari kekerasan emosional ini yaitu seperti mengancam untuk membunuh atau melukai anak, mengatakan masa lalu anak yang buruk dan mengancam untuk merusak barang-barang yang disenangi anak dan sebagainya.

2.       Verbal

Bentuk dari kekerasan emosional ini yaitu seperti mengatakan kata-kata kasar atau kata-kata yang tidak anak sukai, membentak, dan mencaci maki. Seperti bodoh, nakal, anak tak berguna dan sebagainya.

3.       Pemaksaan

Bentuk dari kekerasan emosional ini yaitu seperti memaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan anak, melakukan tindakan yang tidak pantas, dan sebagainya.

4.       Emosi

Bentuk dari kekerasan emosional ini yaitu seperti menyangkal emosi anak, tidak memberi perhatian, menciptakan rasa takut dan khawatir.

5.       Kontrol

Bentuk dari kekerasan emosional ini yaitu seperti membatasi kegiatan anak, menghilangkan kesenangan anak, merampas kebutuhan dasar anak seperti tidur, makan, bermain dan sebagainya.

6.       Penyalahgunaan dan Pengabaian

Bentuk dari kekerasan emosional ini yaitu seperti menyalahgunakan kepercayaan, menyembunyikan informasi, merasa selalu benar, tidak mendengarkan, tidak menghormati, tidak menanggapi dan sebagainya.

 

CONTOH KEKERASAN EMOSIONAL

Selain memarahi dan membentak yang umum ditemukan, salah satu contoh lain dari kekerasan emosional khususnya pada masa sekarang yaitu ketika orang tua sibuk untuk melakukan pekerjaannya yang seringkali menyita banyak waktu sehingga membuat intensitas orang tua dan anak berkurang. Kurangnya interaksi antara anak dan orang tua ini termasuk kedalam bentuk indifference atau tidak peduli pada klasifikasi Azevedo & Viviane (2008).

Contoh lain dari bentuk kekerasan emosional juga dapat terlihat pada kasus Jennifer Pan, dimana orang tuanya membatasi pergaulannya dan memberikan tuntutan yang tinggi terhadap akademik Pan. Hal ini termasuk dalam bentuk isolation pada klasifikasi Azevedo & Viviane (2008) atau kontrol pada klasifikasi Sinclair (1998).

 

DAMPAK KEKERASAN EMOSIONAL

Luka yang ditimbulkan akibat kekerasan emosional pada anak memang tidak terlihat. Namun, sama seperti kekerasan lainnya, anak yang mengalami kekerasan emosional juga dapat mengalami dampak terhadap dirinya. Berikut merupakan beberapa contoh bentuk perilaku akibat dampak dari kekerasan emosional yang dialami anak:

1.    Memiliki pandangan yang negatif/buruk terhadap dirinya

Menurut tokoh psikologi Erik Erikson, anak usia dini sudah mulai mengembangkan pemahaman mengenai dirinya. Karena masih dalam proses pengembangan, mereka akan mengembangkan pemahaman mengenai dirinya dari pengaruh lingkungan. Anak yang megalami kekerasan verbal seperti mendapat hinaan, ancaman, ataupun mendapat kata/kalimat yang tidak pantas akan menimbulkan ketakutan dan hilangnya kemampuan untuk bertindak. Hal ini apabila terjadi secara berulang akan membentuk pemahaman mengenai dirinya yang negatif, serta menghulangkan kepercayaan dirinya (Wati, 2019).

2.    Memiliki kesulitan dalam mengelola emosi

Perkembangan emosi tercipta dari pola asuh orang tua yang baik. Menurut Suryanto, interaksi anak dan orang tua pada awal kehidupan penting sebagai dasar perkembangan emosional anak. Karena itu, orang tua yang sering memberikan teriakan, ancaman, dan sebagainya sebagai cara membentuk kepatuhan anak akan berdampak pada emosi anak yang tidak stabil karena anak mendapatkan contoh yang salah dalam perkembangan emosinya (Sari, Sumardi, & Mulyadi, 2020).

3.    Memiliki tingkat agresi yang tinggi

Menurut Jessor (1997), anak yang tinggal dengan orangtua yang melakukan tindak kekerasan akan belajar bagaimana cara berinteraksi dan bersosialisasi dari orangtuanya. Kekerasan emosional yang dialami oleh anak dapat terjadi dalam bentuk berteriak, mengancam, atau melakukan tindakan yang menyimpang lainnya. Tindakan orang tua tersebut akan diamati oleh anak untuk kemudian dicontoh oleh anak saat ia harus bersosialisasi atau melakukan interaksi dengan lingkungannya. Selain itu, Patterson (1982) juga menjelaskan bahwa orangtua mempengaruhi gaya interpersonal remaja melalui proses belajar. Remaja yang menjadi korban kekerasan akan meniru cara orangtuanya dalam bersosialisasi. Karena itu, adanya tindakan kekerasan oleh orang tua pada anak akan membuat anak tersebut memiliki tingkat agresi yang tinggi. Anak dengan tingkat agresi tinggi akan lebih sering mengalami penolakan atau dijauhi oleh anak normal yang tidak memiliki gaya sosialisasi agresif. Dengan demikian, anak yang mengalami korban kekerasan emosional akan lebih sering bersosialisasi dengan anak lain yang memiliki tingkat agresi tinggi, sehingga memiliki resiko untuk melakukan tindakan kenakalan atau pelanggaran akan semakin besar (Nindya & Margaretha, 2012).

4.    Memiliki kesehatan mental yang buruk

Anak yang mengalami kekerasan emosional seperti dimarahi dan dibentak menurut UNICEF (1986) cenderung memiliki coping mechanism yang salah dan berpengaruh terhadap kondisi mentalnya seperti seperti memuntahkan makanan kembali, kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan yang lebih besar untuk bunuh diri (Suteja & Ulum, 2019). Kekerasan emosional ini juga dapat menimbulkan gangguan kecemasan berlebihan, rasa sakit dan nyeri pada tubuh, sulit untuk berkonsentrasi, perubahan suasana hati yang sangat cepat, sulit tidur, hingga mengalami mimpi buruk. Bahkan, pada beberapa kasus, pelecehan secara emosional ini juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan stres pascatrauma atau PTSD (Fadli, 2020).

 

KESIMPULAN

Meskipun luka yang dialami oleh anak akibat kekerasan emosional tidak tampak, namun dampak yang dialami anak akibat kekerasan emosional juga dapat berpengaruh besar terhadap kondisi anak. Karena itu, dalam memberikan pendampingan/pengasuhan terhadap anak, orang tua tetap harus dapat mengontrol diri sehingga tidak mengeluarkan kata-kata ataupun perlakuan yang dapat menyebabkan anak terluka secara emosi.

 

REFERENSI

Fadli, R. (2020, November 26). Berbagai Dampak Kekerasan Emosional yang Perlu Diketahui. Retrieved from https://www.halodoc.com/artikel/berbagai-dampak-kekerasan-emosional-yang-perlu-diketahui

Kurniasari, A. (2019). Dampak Kekerasan pada Kepribadian Anak. Sosio Informa, 5(01), 15-24.

Maknun, L. (2017). Kekerasan terhadap Anak yang dilakukan oleh Orang Tua (Child Abuse). Jurnal Madrasah Ibtidaiyah.

Nindya, & Margaretha. (2012). Hubungan antara Kekerasan Emosional pada Anak terhadap Kecenderungan Kenakalan Remaja. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 124-132.

Sari, P. P., Sumardi, & Mulyadi, S. (2020). POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI. Jurnal PAUD Agapedia, 157-170.

Suteja, J., & Ulum, B. (2019). DAMPAK KEKERASAN ORANG TUA TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIS ANAK DALAM KELUARGA. Equalita, 169-185.

Wati, H. (2019). PENGARUH KEKERASAN VERBAL TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI ANAK USIA 4-6 TAHUN DI DESA TALANG RIO KECAMATAN AIR RAMI KABUPATEN MUKOMUKO. Retrieved from http://repository.iainbengkulu.ac.id/2784/1/SKRIPSI%20HAUNIKA%20WATI.pdf


 


Last modified: Thursday, 20 January 2022, 4:57 PM