Pandemi Coronavirus Disease 19 (COVID 19) membawa banyak perubahan terhadap kehidupan manusia. Salah satunya yaitu untuk melakukan kerja dari rumah (Work From Home). Namun sayangnya, kebijakan untuk melakukan kerja dari rumah ini menyebabkan adanya peningkatan terhadap jumlah kasus kekerasan terhadap anak. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), terdapat sekitar 2.700 kasus kekerasan terhadap anak selama 2020, dimana angka tersebut mengalami peningkatan sebanyak 38%, dengan bentuk kekerasan sebagai berikut:

Sumber:
Data dari KPAI tersebut juga menunjukkan bahwa orang tua juga mengaku bahwa mereka melaukan tindakan kekerasan fisik dan juga psikis kepada anak. Meskipun anak mengalami kekerasan fisik dan psikis dari orang tua, data dari KPAI menunjukkan bahwa anak masih merasa senang, dimana sebanyak 60.3% anak mengaku senang karena memiliki waktu lebih banyak untuk membantu orang tua, serta 59.7% anak mengaku senang karena lebih dekat dengan orang tua. Tidak hanya itu, namun berdasarkan data dari KPAI, sebanyak 57% anak menjawab bahwa mereka akan meminta pertolongan kepada orang tua apabila mengalami kekerasan.
DAMPAK KEKERASAN TERHADAP KEPRIBADIAN ANAK
Apabila kekerasan yang dialami anak berlangsung terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan kualitas kehidupan anak, serta dapat berdampak pada kondisi kepirbadian anak, dan juga dapat berdampak hingga seumur hidupnya. Berikut merupakan beberapa contoh dampak dari kekerasan yang dialami anak terhadap dirinya (Child Welfare Information Gateway, 2019):
1. Memiliki pandangan yang negatif/buruk terhadap dirinya
Menurut tokoh psikologi Erik Erikson, anak usia dini sudah mulai mengembangkan pemahaman mengenai dirinya. Karena masih dalam proses pengembangan, mereka akan mengembangkan pemahaman mengenai dirinya dari pengaruh lingkungan. Karena itu, anak-anak yang mendapat kekerasan, pada akhirnya akan menunjukkan kepercayaan diri dan harga diri yang rendah karena pengaruh lingkungan yang memperlakukan mereka demikian.
2. Memiliki masalah pada perkembangan kognitif
Penelitian menemukan bahwa anak yang mengalami kekerasan beresiko mengalami masalah kognitif, seperti kesulitan dalam belajar dan juga memperhatikan. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan anak mengalami penurunan prestasi akademik.
3. Memiliki kesulitan dalam mengelola emosi
Anak yang mengalami kekerasan dapat mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan dalam memecahkan masalah (coping). Hal ini disebabkan karena anak tidak mendapat contoh ataupun masukan mengenai cara dalam merespons pengalaman stress yang mereka alami dengan tepat dan secara bersamaan, anak mendapatkan contoh proses respons stress yang maladaptive (seperti kekerasan) dari keluarganya. Padahal berdasarkan data dari KPAI, sebanyak 57% anak menjawab bahwa mereka akan meminta pertolongan kepada orang tua apabila mengalami kekerasan.
4. Memiliki kesulitan dalam bersosialisasi
Emosi memiliki peran yang sangat kuat dalam menentukan keberhasilan hubungan anak dengan teman sebayanya, dimana anak yang memiliki emosi negatif lebih sering mengalami penolakan dibandingkan anak yang memiliki emosi yang positif. Selain itu, pandangan anak yang buruk terhadap dirinya juga meyebabkan anak kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman sebayanya. Hal ini pada akhirnya juga dapat berdampak pada ketidakmampuan anak dalam menjalin relasi yang intim saat dewasa nanti.
5. Memiliki kesehatan mental dan emosional yang buruk
Pengalaman kekerasan yang dialami oleh anak dapat menjadi faktor resiko berbagai masalah kesehatan fisik dan juga mental, seperti penyakit kardiovaskular, depresi, dan juga kecemasan. Hal ini disebabkan karena pengalaman buruk yang dialami anak, apabila terpapar stresor tersebut secara terus menerus dan tidak ada orang yang dapat memberi perlindungan, pada akhirnya dapat memicu sistem respons stress yang berlebihan, sehingga dapat berdampak pada kesehatan fisik dan juga mentalnya hingga dewasa.
Perlakuan tidak menyenangkan yang dialami oleh anak, baik secara fisik maupun psikologis, akan mempengaruhi struktur kepribadiannya. Perasaan sakit, sedih, dan juga perasaan lainnya yang diterima oleh anak, apabila tidak mendapatkan bantuan untuk diselesaikan dengan baik, maka akan memperparah kondisi anak dan akan terus terbawa pada kehidupan, bahkan saat dewasa nanti dan menjadi bagian dari pola perilaku sosialnya. Beberapa bentuk perilaku anak sebagai akibat perlakuan kekerasan yang diterima dapat dikelompokkan sebagai berikut (Kurniasari, 2019):
1. Bersikap permisif
Pengalaman buruk akibat kekerasan yang dialami anak dapat membuat anak merasa tidak berguna dan tidak bermanfaat, yang menyebabkan anak menjadi pendiam, mengisolasi diri, dan tidak mampu bergaul, sebagai perilaku yang nyaman bagi dirinya. Pada akhirnya, anak menjadi kurang berhasil dalam menjalin relasi dan hubungan dengan teman sebayanya, hingga kesulitan dalam menjalin dan mempertahankan hubungan intim yang sehat ketika dewasa.
2. Bersikap depresif
Pengalaman buruk juga dapat membuat anak bersikap murung karena tidak dapat mengungkapkan permasalahannya dengan orang lain, sehingga terus membekas. Akibatnya, anak menjadi pendiam, mudah menangis, meski dalam keadaan atau situasi menyenangkan sekalipun. Anak juga dapat menjadi ketakutan terhadap obyek yang tidak jelas, mengalami kecemasan, bahkan dapat mengalami traumatik pada hal-hal yang berhubungan dengan pelaku atau figur otoritas (seperti guru, orangtua, ataupun orang dewasa lainnya) yang selama ini melakukan kekerasan.
3. Bersikap agresif
Pengalaman buruk yang dialami anak juga dapat menyebabkan sikap yang berkebalikan dari 2 sikap diatas, diantaranya yaitu sikap agresif. Kekerasan yang dialami anak mengakibatkan anak ingin melawan, namun tidak mampu melampiaskannya pada pelaku. Karena itu, anak akan berperilaku negatif, untuk menunjukkan bahwa dirinya sebagai orang yang kuat dan memiliki kekuasaan, seperti mulai merokok, menggunakan obat-obatan, minum alkohol, bergaul dengen teman-teman antisosial, ataupun melakukan seks bebas sejak dini.
4. Bersikap destruktif
Sikap lainnya yang bisa saja muncul akibat pengalaman kekerasan yang dialami anak yaitu sikap destruktif, seperti adanya keinginan untuk menyakiti diri sendiri karena ketidakmampuan dalam membela diri atau mencari pertolongan. Perasaan kesal dan putus asa tersebut pada akhirnya mendorong dirinya untuk menyakiti dirinya sendiri, bahkan bisa juga sampai ada kenginan untuk melakukan percobaan bunuh diri. Hal ini bisa saja berawal karena mereka tidak menemukan/memperoleh cara penyelesaian masalah, kemudian mengalihkannya pada hal-hal lain agar mendapat perhatian orang lain.
DAMPAK KEKERASAN TERHADAP PERKEMBANGAN OTAK ANAK


Selain menyebabkan dampak terhadap psikis atau kepribadian anak, kekerasan yang dialami anak juga dapat berdampak terhadap struktur dan fungsi dari otak. Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2016, kekerasan yang dialami oleh anak dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak. Hal ini pada akhirnya berdampak pada gangguan fungsi otak, yaitu untuk menyimpan memori dan juga fleksibilitas kognitif (yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda). Selain itu, beberapa peneliti juga menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan sering mengalami penurunan aktivitas di otak mereka, penurunan metabolisme otak, dan koneksi yang lebih buruk antara area otak yang merupakan kunci untuk mengintegrasikan informasi kompleks (Teicher, Samson, Anderson, & Ohashi, 2016).
Berikut beberapa contoh bagian otak yang berubah akibat kekerasan yang dialami oleh anak, dan apa pengaruhnya terhadap anak (Child Welfare Information Gateway, 2015):
1. Hippocampus
Penelitian menemukan bahwa mereka yang pernah mengalami kekerasan, mengalami adanya penurunan volume pada bagian otak hippocampus, yang merupakan pusat pembelajaran dan memori.Sehingga apabila bagian ini mengalami kerusakan, anak dapat mengalami penurunan prestasi akademik.
2. Corpus callosum
Anak yang mengalami kekerasan juga dapat mengalami penurunan volume pada bagian corpus callosum, yang bertanggung jawab terhadap proses seperti gairah, emosi, serta kemampuan kognitif yang lebih tinggi (penyalur sinyal motorik, sensorik, dan informasi kognitif antara otak kanan dan kiri).
3. Cerebellum
Bagian otak cerebellum juga mengalami penurunan volume, dimana fungsi dari bagian otak ini yaitu untuk membantu mengkoordinasikan perilaku motorik dan fungsi eksekutif, serta berperan dalam menyimpan ingatan mengenai keahlian sensorimotor yang dipelajari.
4. Prefrontal cortex
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa anak yang mengalami kekerasan ini memiliki ukuran bagian otak prefronal cortex yang lebih kecil, yang memiliki fungsi yang sangat penting untuk perilaku, kognisi, dan regulasi emosi.
5. Orbitofrontal cortex
Anak-anak yang mengalami kekerasan juga bisa saja mengalami penurunan volume pada bagian otak orbitofrontal cortex, yang merupakan pusat pengendalian emosi dan regulasi sosial.
6. Amygdala
Meskipun beberapa penelitian tidak menunjukkan adanya perubahan yang terjadi pada bagian otak amygdala, namun pengalaman kekerasan yang dialami anak dapat menyebabkan aktivitas berlebihan di area otak amygdala, yang membantu menentukan apakah suatu stimulus mengancam dan memicu respons emosional/tidak.
7. Tingkat kortisol
Banyak dari anak yang mengalami kekerasan, memiliki tingkat kadar hormon kortisol yang tidak normal. Hasil ini berbeda pada tiap anak karena tubuh mereka bereaksi berbeda terhadap stresor yang berbeda. Tingkat kortisol yang tidak normal dapat memiliki banyak efek negatif, dimana tingkat kortisol yang lebih rendah dapat menyebabkan penurunan sumber energi, yang dapat mempengaruhi pembelajaran dan sosialisasi, gangguan eksternalisasi, dan peningkatan kerentanan terhadap gangguan autoimun. Sedangkan tingkat kortisol yang lebih tinggi dapat membahayakan proses kognitif, meredam reaksi imun dan inflamasi, atau meningkatkan risiko gangguan afektif.
Selain itu, beberapa kasus kekerasan fisik dapat menyebabkan kerusakan struktural langsung pada otak anak. Sebagai contoh, benturan terhadap bagian kepala anak dapat merusak jaringan otak dan merobek pembuluh darah. Dalam jangka pendek, ini dapat menyebabkan kejang, kehilangan kesadaran, atau bahkan kematian. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat merusak otak yang rapuh sehingga seorang anak mengalami berbagai gangguan sensorik, serta cacat kognitif, belajar, dan perilaku.
KESIMPULAN
Dari penjelasan-penejlasan diatas, dapat terlihat bahwa kekerasan yang dialami oleh anak dapat berdampak pada banyak aspek kehidupan, baik secara psikologis maupun dalam perkembangan otaknya. Hal ini apabila tidak dapat ditangani dengan baik, dapat berdampak pada kehidupannya hingga dewasa. Karena itu, orangtua ataupun pengasuh harus dapat memperhatikan pola kualitas pengasuhan yang baik, sehingga anak tetap terlindungi dan hak-hak anak tetap dapat terpenuhi. Dan apabila dirasa memerlukan bantuan profesional, orangtua, pengasuh, ataupun kerabat terdekat dapat mencari bantuan dari psikolog ataupun psikiater untuk membantu anak mendapatkan penanganan yang tepat.
REFERENSI:
Child Welfare Information Gateway. (2015). Understanding the effects of maltreatment on brain development. Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services, Children’s Bureau.
Child Welfare Information Gateway. (2019, April). Long-term consequences of child abuse and neglect. Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services, Administration for Children and Families, Children’s Bureau.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2021). Retrieved from Hasil Survey Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak pada Masa Pandemi COVID-19: https://bankdata.kpai.go.id/files/2021/02/Hasil-Survei-KPAI-2020-Pemenuhan-dan-Perlidunga-di-Masa-Covid-19.pdf
Kurniasari, A. (2019). Dampak Kekerasan pada Kepribadian Anak. Sosio Informa, 5(01), 15-24.
Teicher, M., Samson, J., Anderson, C., & Ohashi, K. (2016). he effects of childhood maltreatment on brain structure, function and connectivity. Nat Rev Neurosci, 17, 652–666.