A. Definisi Melibatkan Pasien dalam Kesehatan dan Perawatan
Keterlibatan pasien di definisikan sebagai proses melibatkan pasien dan keluarga pasien atau carer, bersama dengan profesional kesehatan dalam bentuk kemitraan aktif. Kemitraan ini dapat dilakukan di berbagai tingkatan pelayanan kesehatan, baik pada proses perawatan, proses desain atau perencanaan perawatan, tata kelola organisasi, serta pembuatan kebijakan untuk meningkatkan kesehatan dan perawatan kesehatan1.
Keterlibatan pasien semakin diakui sebagai bagian integral dari perawatan kesehatan yang menjadi komponen penting dari layanan yang berpusat pada pasien (patient centered-care). Pasien yang terlibat dalam kemitraan ini, lebih mampu membuat keputusan berdasarkan informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan selain itu pasien juga paham akan adanya pilihan dalam perawatan mereka. Selain itu, pemanfaatan sumber daya menjadi lebih efisien karena sesuai dengan kebutuhan pasien dan prioritas pelayanan kesehatan, dimana hal ini sangat penting untuk keberlanjutan sistem kesehatan di seluruh dunia6.
Keterlibatan pasien juga dapat meningkatkan akuntabilitas dan pemahaman timbal balik antara pasien dan penyedia layanan kesehatan. Di kebanyakan negara, titik kontak pertama antara tenaga kesehatan dengan pasien adalah di pelayanan kesehatan primer. Terdapat peluang lebih tinggi untuk dapat melakukan pengelolaan kemitraan antara pasien dan keluarga serta tenaga kesehatan di pelayanan primer, dimana hal ini akan menjadi titik awal yang baik untuk melibatkan pasien lebih jauh di seluruh sistem6.
Pasien yang diberi cukup informasi cenderung merasa percaya diri untuk melaporkan pengalaman positif dan negatif sehingga meningkatkan kesesuaian dengan rencana manajemen perawatan yang disepakati bersama dengan tenaga kesehatan. Ini tidak hanya meningkatkan health outcomes atau hasil kesehatan, tetapi juga dapat menjadi saran pembelajaran dan peningkatan, sekaligus mengurangi kejadian tidak diinginkan6.
Di berbagai negara di dunia, semakin banyak pasien dalam berbagai tingkat masyarakat yang bekerjasama dengan penyedia pelayanan kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien5. Melibatkan pasien perawatan kesehatan mereka berarti mendukung pasien untuk mengelola kesehatan serta kesejahteraan secara mandiri setiap hari. Hal ini berarti mendukung pasien agar terlibat dalam pengambilan keputusan sebanyak yang di inginkan serta dapat mengontrol layanan kesehatan yang mereka terima. Jumlah control yang dapat dilakukan oleh pasien berbeda-beda sesuai dengan latar belakang, pengalaman, keadaan, dan preferensi mereka. Misalnya, seseorang dengan ketidak-mampuan belajar yang mendalam mungkin merasa lebih sulit untuk mengungkapkan kebutuhan mereka. Namun, keterlibatan dapat dicapai melalui percakapan dengan orang terdekat atau keluarga pasien atau orang yang memahami serta mampu menyuarakan preferensi pasien3.
KETERLIBATAN PASIEN dan keluarga
Keterlibatan pasien dan keluarga merupakan salah satu cara yang menjanjikan menuju perawatan kesehatan yang lebih berkualitas dan efisien. Keterlibatan Secara Berlanjut (The Continuum Of Engagement) dapat dicirikan oleh tersedia banyaknya informasi antara pasien dengan penyedia layanan kesehatan, adanya peran aktif pasien dalam keputusan perawatan, dan adanya keterlibatan pasien pada saat rumah sakit dalam membuat kebijakan. Di ujung bawah kontinum, pasien dilibatkan tetapi memiliki otoritas pengambilan keputusan. Penyedia, organisasi, dan sistem menentukan agendanya sendiri dengan mencari masukan pasien1.
Di ujung kontinum yang lebih tinggi, keterlibatan dicirikan oleh tanggung jawab dan keputusan bersama (pasien sebagai mitra aktif) dalam menentukan agenda dan membuat keputusan. Informasi mengalir dua arah selama proses keterlibatan serta tanggung jawab pengambilan keputusan1.
Salah satu contoh adalah pemanfaatan rekam medis elektronik. Pada akhir engagement continuum, dokter dapat menggunakan catatan dari rekam medis untuk memberikan informasi kepada pasien, misalnya menginformasikan hasil laboratorium. Pasien dapat terlibat langsung dengan diberikan akses terhadap rekam medis. Termasuk dapat melihat catatan dari dokter dan sistem pemberian layanan kesehatan lainnya, tetapi mereka tidak dapat berkontribusi atau mengoreksi informasi yang ada di rekam medis tersebut1. Catatan tersebut mencerminkan seluruh pengalaman perawatan dari sudut pandang pasien dan dokter, dan keputusan perawatan dapat dibuat secara kolaboratif, dengan menyertakan semua informasi yang relevan1.
1. Keterlibatan Pasien di Berbagai Tingkat Perawatan
a. Perawatan langsung
Pada tingkat perawatan langsung, keterlibatan pasien dilakukan dengan mengintegrasikan nilai, pengalaman, dan perspektif yang terkait dengan pencegahan, diagnosis, serta pengobatan. Termasuk mengelola kesehatan pasien dan memilih penyedia pelayanan kesehatan. Pada tingkat perawatan langsung, pasien dapat terlibat dengan berbagai sumber atau kelompok terkait kesehatan untuk mencari informasi tentang kondisi kesehatan mereka. Keterlibatan pasien pada tingkat ini berkisar dari pasien yang hanya menerima informasi hingga menjadi mitra aktif dalam tim perawatan, menetapkan tujuan, membuat keputusan, dan secara proaktif mengelola kesehatannya1.
Dalam keterlibatan di akhir, pasien berkomunikasi dengan dokter tentang situasi kesehatan mereka, memahami risiko serta manfaat yang terkait dengan pilihan perawatan dengan mengajukan pertanyaan dan mengakses rekam medis. Dokter memberikan informasi yang tepat waktu, lengkap, dan dapat dipahami kepada pasien sehingga akan mendapatkan nilai, keyakinan, dan toleransi risiko pasien terkait pilihan perawatan dengan melibatkan keluarga dan teman sesuai keinginan pasien1.
b. Desain dan Tata Kelola Organisasi
Pada tingkat desain dan tata kelola organisasi, keterlibatan pasien dilakukan dengan mengintegrasikan nilai, pengalaman, dan perspektif pasien ke dalam tata kelola organisasi perawatan kesehatan serta bermitra dengan pemimpin organisasi, manajer, dan dokter untuk merencanakan serta mengevaluasi perawatan. Pasien juga membantu dalam merancang kebutuhan akan fasilitas perawatan Kesehatan. Pada akhir kemitraan dari kontinum, pasien membantu mengatur agenda, menentukan prioritas, dan berbagi otoritas pengambilan keputusan. Pasien terlibat sejak awal dan penuh makna dan bukan merupakan perwakilan1.
c. Pembuatan Kebijakan
Pada tingkat pembuatan kebijakan, keterlibatan berfokus pada pengembangan, implementasi, dan evaluasi kebijakan pada program kesehatan. Keterlibatan pasien dalam kebijakan berguna untuk memastikan bahwa sistem perawatan kesehatan cukup responsif terhadap perspektif pasien. Pasien ikut bekerja sama dengan pemimpin komunitas serta pembuat kebijakan untuk membentuk kebijakan kesehatan serta prioritas sumber daya. Pasien juga dapt berpartisipasi dalam penelitian kesehatan klinis. Pada tingkat ini, keterlibatan dapat mencakup pasien secara individu serta perwakilan organisasi. Idealnya, pada akhir kemitraan dari kontinum untuk tingkat ini, pasien atau perwakilan mereka menetapkan prioritas dan membantu dalam membuat keputusan dan kebijakan program di pelayanan kesehatan1.
2. Faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan Pasien
Banyak faktor yang mempengaruhi sejauh mana pasien dapat terlibat pada tingkat atau titik yang berbeda di sepanjang kontinum. Dalam gambar, telah dikelompokkan faktor-faktor ke dalam tiga kategori yaitu:
a. Individu pasien
Faktor individu pasien dapat mempengaruhi motivasi dan kemampuan untuk terlibat dalam berbagai tingkatan (pengetahuan, sikap, dan keyakinan pasien). Tingkatan tersebut termasuk dengan keyakinan mereka tentang peran pasien itu sendiri, pengalaman pasien dengan sistem kesehatan, serta kemampuan kapasitas fungsional mereka. Populasi rentan mungkin menghadapi tantangan tambahan, seperti health literacy yang rendah atau penurunan kognitif ketika mencoba untuk terlibat1.
b. Organisasi
Karakteristik organisasi mempengaruhi kemampuan pasien untuk terlibat di dalam perawatan. Rumah sakit, praktik dokter, fasilitas kesehatan pemerintah, dan organisasi lain dapat mendorong keterlibatan pasien dengan menunjukkan bahwa partisipasi pasien sangat penting untuk pencapaian tujuan perbaikan dengan menanggapi upaya pasien secara positif1. Kebijakan organisasi juga mempengaruhi pasien untuk menjadi mitra aktif dalam perawatan langsung. Perawat bertugas memberikan laporan perubahan shift kepada pasien dan idealnya catatan kesehatan elektronik (rekam medis elektronik) dapat diakses juga oleh pasien. Kebijakan dan praktik organisasi dapat lebih meningkatkan keterlibatan dengan menciptakan harapan bahwa pasien akan menjadi penasihat serta pengambil keputusan, termasuk di tim peningkatan kualitas, komite keselamatan pasien, dan dewan perawatan yang berpusat pada pasien dan keluarga1.
c. Masyarakat
Pasien dan organisasi pelayanan kesehatan beroperasi dalam lingkungan sosial dan politik yang lebih luas dan dipengaruhi oleh norma sosial, aturan setempat, dan kebijakan nasional. Norma sosial dan komunitas mempengaruhi kemampuan pasien dalam berkontribusi meningkatkan kemampuan perawatan mereka. Kebijakan pembelian dan pemanfaatan produk atau jasa juga dapat mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari fasilitas kesehatan. Masyarakat juga dapat menunjukkan kepada organisasi di mana sumber daya harus dialokasikan. Pembuat kebijakan juga dapat membuat mekanisme di mana pasien dapat memberikan masukan dan saran dalam merancang atau mengevaluasi suatu kebijakan1.
C. Kerangka Keterlibatan Pasien dalam Keselamatan Pasien
Representasi dari Kerangka 5-Faset untuk keterlibatan pasien dalam keselamatan pasien yang terdiri atas2:
1. Kapasitas personal
a. Kesehatan emosi dan fisik
Tingkat keparahan penyakit yang diderita pasien berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan pasien tersebut terhadap keselamatan pasien. Sebagian pasien menyatakan kondisi penyakit menyebabkan mereka mempunyai keterbatasan untuk terlibat dalam keselamatan pasien. Contohnya ketika seorang pasien mengidap penyakit yang cukup parah, maka keterlibatannya dalam keselamatan pasien akan sedikit, karena pasien berfikir bahwa petugas kesehatan lah yang seharusnya melindunginya.
b. Pemahaman
Pasien mempunyai kapasitas yang berbeda dalam memahami dan mengingat sesuatu hal yang akan mempengaruhi bagaimana keterlibatan antara pasien dan keluarga dengan tenaga kesehatan. Untuk meningkatkan pemahaman, dapat dilakukan edukasi secara terus menerus kepada pasien dan keluarga. Edukasi dapat berbentuk komunikasi dua arah, edukasi secara online melalui website atau webinar ataupun menggunakan alat bantu seperti flyer atau poster yang dapat dipasang dan diletakkan di sekitar unit pelayanan.
c. Kesadaran
Pengamatan dan kesadaran terhadap proses yang ada di rumah sakit berbeda antara individu. Misalnya persepsi tiap pasien terhadap aktivitas cuci tangan yang dilakukan tenaga kesehatan mungkin saja berbeda. Contohnya pasien A memperhatikan petugas kesehatan yang selalu mencuci tangan karena sadar kalau hal tersebut merupakan sesuatu yang penting, sedangkan pasien B lebih tidak memperhatikan atau tidak peduli. Banyak pasien yang sadar dan paham akan isu-isu kesehatan yang mungkin timbul terkait pelayanan yang diterima, sayangnya lebih banyak yang tidak sadar atau kurang paham. Hal tersebut yang menyebabkan tidak semua hak pasien dapat terpenuhi. Hal ini dapat diatasi dengan adanya komunikasi yang baik antara pasien dengan tenaga kesehatan.
2. Pengetahuan pengalaman
a. Efek emosional
Dalam menjelaskan pengalaman mereka, pasien biasanya mengungkapkan berbagai emosi dan berbicara tentang berbagai perasaan seperti marah, khawatir atau rasa belas kasih. Pasien juga menunjukkan empati atau pemahaman terkait insiden yang terjadi. Pengalaman buruk dari pelayanan kesehatan masa lalu biasanya akan mempengaruhi perasaan pasien dan akan berpengaruh pada keputusan untuk kembali menggunakan pelayanan tersebut.contohnya ketiga petugas kesehatan memberikan pelayanan yang buruk, maka akan menimbulkan efek emosi pada pasien, sehingga bisa saja pasien tidak melanjutkan pengobatan di tempat tersebut.
b. Memahami pola atau proses
Untuk beberapa pasien, cara memahami lingkungan pelayanan kesehatan adalah dengan pengamatan terhadap aktivitas rutin atau pola dari apa yang mereka biasa lihat di pelayanan kesehatan. Dengan memahami pola atau proses tersebut, akan menimbulkan kemampuan untuk mengontrol dan bertindak. Sebagai contoh, seorang pasien yang sudah pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya akan membawa daftar obat yang pernah ia gunakan tanpa ditanya terlebih dahulu karena dokter selalu menanyakan hal tersebut setiap melakukan pemerikasaan, sehingga mempermudah dokter dalam melakukan perawatan.
c. Menyadari kesalahan
Pasien mulai menyadari kesalahan berdasarkan pengalaman mereka. Pengalaman mereka membawa perspektif bahwa kesalahan dapat menimpa mereka. Sehingga pasien menganggap bahwa petugas merupakan manusia yang pasti dapat berbuat kesalahan, namun tetap harus berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan.
d. Pengaruh dari sebuah tindakan
Pengalaman yang dirasakan oleh pasien memiliki dampak yang berbeda-beda pada perilaku mereka. Beberapa pasien pernah mengalami kesalahan perawatan kesehatan, namun sebagian merasa tidak terpengaruh dan sebagian lagi merasa terpengaruh seperti kehilangan kepercayaan. Contohnya ketika ada seorang pasien mengalami gagal diagnosa, ia bisa saja hilang kepercayaan kepada dokter tersebut dan berpindah ke dokter lain atau bahkan tidak mau mendapatkan pengobatan lagi.
3. Karakter pribadi
a. Temperament atau karakter
Setiap pasien memiliki karakter yang berbeda-beda, terkadang ada yang acuh dan mengikuti alur atau perintah dokter, ada juga yang peduli dan lebih banyak bertanya. Contohnya ada satu pasien yang memiliki sifat ingin tau terkait dengan kebutuhannya sendiri sehingga mempermudah dalam proses perawatan, namun ada juga pasien lain yang acuh terhadap kebutuhannya sendiri.
b. Pandangan mereka pada dunia
Setiap pasien mempunyai keyakinan dan filosofi hidup yang berbeda dan hal tersebut akan mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku dan berinteraksi. Contohnya terdapat seorang pasien yang selalu berusaha menjadi orang yang positif dan mendukung petugas kesehatan dalam melakukan tugasnya, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat.
c. Apa yang pasien lakukan untuk diri mereka
Pasien menggambarkan strategi pribadi yang mereka gunakan untuk rawat inap, dan bagaimana mengatasi kekurangan yang dirasakan. Semisal pasien tidak bergantung pada layanan, termasuk meminta tempat tidur ditinggikan di malam hari, atau menggunakan alat bantu jalan. Dengan kata lain pasien paham bahwa keterlibatan pasien sangat berpengaruh terhadap proses perawatan kesehatan untuk diri mereka sendiri.
d. Pilihan dan penilaian
Pasien membuat pilihan dan penilaian selama di rumah sakit. Sebagai contoh, setelah mendapatkan perawtan, pasien membuat penilaian tentang suatu kejadian yang mereka lihat tentang apakah proses perawatan dilakukan dengan aman dan lain sebagainya dan penilaian tersebut akan berpengaruh pada pemilihan pasien.
4. Hubungan
a. Keluarga dan teman
Keluarga dan teman dapat menjadi orang yang mewakili pasien untuk berdiskusi, bertanya bahkan untuk menentukan keputusan terkait perawatan yang dipilih. Dukungan anggota keluarga atau teman sangat penting terutama jika pasien mempunyai pengetahuan dan kemampuan terbatas terkait penyakit yang diderita atau pelayanan kesehatan. Keterlibatan anggota keluarga atau teman sangat dianjurkan supaya pelayanan yang diberikan lebih baik lagi.
b. Penyedia layanan profesional
Para pasien mengomentari interaksi dengan profesional perawatan kesehatan, termasuk harapan mereka terhadap penyedia dan upaya mereka untuk memfasilitasi hubungan itu.
c. Pasien lain
Saat pasien menggambarkan pengalaman mereka, mereka menyertakan teman sekamar. Mereka menceritakan bagaimana teman sekamar sering membantu satu sama lain, seperti mencari bantuan medis saat dibutuhkan.
5. Makna dari keselamatan
a. Nilai dan Prioritas
Pasien memiliki sudut pandang yang berbeda tentang perawatan yang aman dan makna dari "merasa aman". Kebanyakan pasien berpendapat bahwa perawatan yang aman adalah ketika bagaimana petugas kesehatan memberikan pelayanan kepada mereka, bahkan keterlibatan pasien kurang menjadi prioritas dalam indicator “aman” menurut mereka. Hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan pasien kepada pemberi pelayanan kesehatan.
D. Mendidik Pasien dan Penyedia Layanan Kesehatan
Ada banyak penelitian tentang intervensi pendidikan untuk meningkatkan kesesuaian pelayanan kesehatan. Intervensi dalam perawatan primer memiliki potensi untuk meningkatkan kepatuhan, meskipun buktinya beragam. Berikut contoh intervensi pendidikan pasien dalam pelayanan kesehatan yang meliputi:
b. Mengirim pesan tentang pengobatan melalui media elektronik untuk memberikan informasi tentang pelayanan kesehatan. Intervensi ini bermanfaat untuk meningkatkan keterlibatan pasien.
c. Memberikan pendidikan dan informasi melalui pos dan telepon juga terbukti mengurangi kesalahan pelayanan kesehatan.
d. Selebaran, video, dan materi pendidikan lainnya dapat digunakan untuk mendorong pasien menyampaikan kekhawatiran tentang keamanan perawatan yang mereka terima6
Keterlibatan pasien sangat penting untuk menentukan potensi untuk menyelamatkan nyawa melalui peningkatan keamanan dan kualitas yang diinformasikan. Pemimpin layanan kesehatan perlu membuat komitmen untuk secara proaktif melibatkan pasien dalam perawatan mereka sendiri dan menerapkan pelajaran yang didapat dari pengalaman perawatan. Pelayanan kesehatan pembuat kebijakan perlu menciptakan peluang untuk melibatkan pasien dan keluarganya dalam dialog6. Salah satunya dengan membuat kebijakan pendukung untuk teknologi informasi kesehatan dapat meningkatkan keterlibatan pasien dalam keselamatan pasien4.
Menciptakan budaya keselamatan pasien membantu menumbuhkan keterbukaan dan transparansi yang dapat memperkuat hubungan pasien dengan pelayanan kesehatan. Pasien perlu memiliki informasi yang cukup tentang kondisi kesehatan mereka dan tentang proses perawatan kesehatan sehingga mereka dapat menjadi mitra yang berpengetahuan luas dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa pasien dan keluarga memiliki akses informasi yang akurat, sesuai, dan terkini, serta memahami cara menggunakan informasi6.
Strategi yang dapat diprioritaskan untuk meningkatkan keterlibatan pasien untuk perawatan primer yang lebih aman meliputi:
1. Mendidik penyedia layanan kesehatan tentang keterlibatan pasien baik di tingkat organisasi maupun individu. Termasuk keterlibatan pasien dan keselamatan dalam kurikulum pendidikan di tingkat sarjana dan pascasarjana serta mengembangkan budaya belajar, bukan budaya menyalahkan.
2. Mendukung pasien untuk terlibat aktif dalam melaporkan insiden keselamatan serta kecelakaan yang hampir terjadi dan masalah keselamatan. Langkah praktis selanjutnya adalah mempromosikan umpan balik (feedback) kepada pasien tentang tindak lanjut yang diambil tentang masalah yang mereka angkat. Perlu dipertimbangkan juga adanya undang-undang yang mendukung pasien dan keluarganya untuk terlibat dalam masalah yang relevan untuk keselamatan mereka. Serta memberikan informasi yang sesuai, akurat dan terkini tentang pengobatan dan masalah keamanan dalam bahasa dan format yang mudah digunakan.
3. Memperluas cara alternatif untuk terlibat serta berkomunikasi dengan pasien, seperti melalui telepon, email dan panggilan video online.
4. Menciptakan sistem yang memfasilitasi akses pasien ke catatan kesehatan mereka.
5. Mendukung kegiatan volunteer yang dipimpin pasien misalnya dengan melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kebutuhan dan manfaat keterlibatan pasien dan kerabat mereka dalam keselamatan pasien di perawatan primer.
6. Mengakui pentingnya komunitas dan menyesuaikan strategi pelibatan dengan konteks sosial dan budaya lokal
7. Menyediakan lingkungan yang mendukung serta memfasilitasi interaksi di antara profesional perawatan kesehatan, dan keterlibatan dengan pasien dan keluarga.
8.
Menghubungkan sistem umpan
balik (feedback) pasien ke sistem organisasi untuk pembelajaran dan
peningkatan, serupa dengan laporan insiden yang dimulai oleh staf. Memberikan
informasi dan konseling, pada kelompok dukungan sebaya6.
1. Carman, K. L., Dardess, P., Maurer, M., Sofaer, S., Adams, K., Bechtel, C., & Sweeney, J. 2013. Patient And Family Engagement: A Framework For Understanding The Elements And Developing Interventions And Policies. Health Affairs, 32(2), 223 231. doi:10.1377/hlthaff.2012.1133
2. Duhn L, Medves J. 2018. A 5-facet framework to describe patient engagement in patient safety. Health Expect. doi: 10.1111/hex.12815. Epub 2018 Aug 29. PMID: 30160006; PMCID: PMC6250877.
3. NHS England. 2017. Involving people in their own health and care: Statutory guidance for clinical commissioning groups and NHS England. England
4. Sharma, A. E., Rivadeneira, N. A., Barr-Walker, J., Stern, R. J., Johnson, A. K., & Sarkar, U. 2018. Patient Engagement In Health Care Safety: An Overview Of Mixed-Quality Evidence. Health affairs (Project Hope), 37(11), 1813–1820. https://doi.org/10.1377/hlthaff.2018.0716
5. Wałaszek, Marta; Kołpa, Małgorzata; Wolak, Zdzisław; Różańska, Anna; Wójkowska-Mach, Jadwiga. 2018. Patient as a Partner in Healthcare-Associated Infection Prevention. Int. J. Environ. Res. Public Health 15. no. 4: 624.
6. World Health Organization. 2016. Patient Engagement: Technical Series on Safer Primary Care. World Health Organization . Geneva