Skip to main content
Completion requirements

Untuk memahami literasi sebagai praktik sosial, diperlukan pemahaman terlebih dahulu mengenai konsep yang mendasari gagasan tersebut antara lain literacy practice (praktik literasi) dan literacy events (peristiwa literasi). Barton dan Hamilton (2000: 7) mendefiniskan literacy practices sebagai berikut: Literacy practices are the general cultural ways utilizing written language which people draw upon their lives. Praktik literasi adalah cara atau kebiasaan umum untuk menggunakan bahasa tertulis yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Barton dan Hamitlton (2000: 8) menjelaskan bahwa ­literacy events are activities where literacy has a role, artinya peristiwa literasi adalah segala kegiatan di mana literasi menjadi bagian di dalamnya. Lebih sederhananya, praktik literasi merupakan segala aktivitas yang dilakukan dengan literasi. Sedangkan peristiwa literasi bisa dimaknai sebagai peristiwa atau kejadian apapun yang bisa diamati, di mana sebentuk tulisan hadir di dalamnya. Praktik literasi lebih abstrak, karena melibatkan nilai, sikap, perasaan, dan hubungan sosial, sementara peristiwa literasi merupakan komponen dari praktik literasi tersebut yang bisa dilihat dan diamati.

Banyak peristiwa literasi dalam hidup merupakan kegiatan yang teratur dan dilakukan berulang-ulang. Beberapa peristiwa literasi berupa pekerjaan rutin yang menjadi bagian dari prosedur formal atau tuntutan suatu institusi sosial tertentu, misalnya tempat kerja, sekolah, bahkan di rumah. Sebagai contoh: Seseorang pergi ke bank dan mengisi form transaksi. Aktivitas ini merupaka peristiwa yang melibatkan literasi di dalamnya. Praktik literasi yang dilakukan adalah kegiatan mengisi form tersebut. Dan kegiatan ini menghubungkan literasi dengan praktik sosial yaitu dalam hubungannya dengan system bank. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peristiwa literasi merupakan rutinitas yang melibatkan praktik literasi yang berkaitan dengan praktik sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam buku Situated Literacies, Barton dan Hamilton (2000: 9) juga memberikan beberapa konsep penting untuk memahami literasi sebagai praktik sosial:

  • Literasi dimaknai sebagai serangkaian praktik sosial, yang bisa dirunut dari berbagai peristiwa di mana teks tertulis terlibat di dalamnya.

Contoh : Annisa memiliki hobi memasak dan mencoba resep baru. Dia selalu mengikuti resep saat membuat bika ambon. Resep itu berupa tulisan tangan yang ia dapat dari neneknya 10 tahun lalu. Awalnya dia mengikuti tiap-tiap langkah dalam resep itu. Namun, kini dia hanya melihat resep itu satu atau dua kali. Annisa tidak selalu mengikuti takaran dan bahan yang tercantum dalam resep. Dia pernah mencoba membuat kue untuk porsi lebih besar, dan sesekali menggunakan bahan pengganti. Karena hasilnya memuaskan, beberapa teman arisan Annisa meminta resep yang sama. Annisa juga mengunggah resep itu di media sosialnya.

 

  • Ada jenis literasi yang berbeda dalam aspek kehidupan yang berbeda pula.

Gagasan adanya jenis literasi yang berbeda-beda didasarkan pada beberapa hal, misalnya pada kegiatan yang melibatkan media atau sistem yang berbeda, misalnya film atau computer. Sehingga praktik literasi yang menggunakan media-media tersebut bisa disebut dengan literasi film dan literasi komputer. Selain itu praktik literasi dalam budaya dan bahasa berbeda juga bisa dianggap sebagai literasi yang berbeda pula. Literasi memiliki hubungan koheren dengan praktik literasi dan berhubungan dengan aspek khusus dalam kehidupan sosial dan budaya.

 

  • Praktik literasi dibentuk oleh institusi sosial dan hubungan kekuasaan. Sebagian literasi dianggap lebih dominan dan berpengaruh dibanding literasi yang lain.

Keluarga, pendidikan, dan agama merupakan beberapa institusi sosial yang berpengaruh dalam domain tertentu dari kehidupan manusia. Institusi sosial yang kuat dan memiliki pengaruh besar, seperti institusi pendidikan, cenderung mendorong praktik literasi yang lebih dominan dan menjadikannya kekuatan dan pengetahuan yang menyatu dalam hubungan sosial. Sehingga literasi lainnya yang ada dalam kegiatan sehari-hari tidak begitu terlihat. Misalnya, orang tua yang menjunjung tinggi pendidikan anak untuk meraih masa depan yang cemerlang bisa saja mendorong anak untuk rajin belajar dan banyak membaca buku pengetahuan, namun kurang suka melihat anak membaca komik atau terlalu sering berkutat dengan gadget, karena menganggap kegiatan tersebut tidak akan mendukung pendidikannya. Padahal komik dan gadget juga termasuk media literasi. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk literasi lain dianggap tidak begitu penting daripada literasi pendidikan.

 

  • Praktik literasi memiliki tujuan tertentu dan berkaitan erat dengan tujuan sosial dan praktik budaya secara umum.

Setiap kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan tertentu. Bagi sebagian orang, membaca dan menulis merupakan akhir dari tujuan itu. Namun, bagi orang lain kegiatan membaca dan menulis memiliki tujuan lain yang lebih luas. Sebagai contoh pada poin 1), tujuan utama Annisa adalah untuk membua kue, dan kegiatan membaca dan menulis resep menjadi bagian di dalamnya, yang bersifat insidental. Resep kue tersebut terkait juga dalam praktik sosial dalam rumah tangga yaitu menyediakan makanan, dan juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas ketika Annisa membagikannya di sosial media.

 

  • Literasi terjadi dalam konteks sejarah.

Praktik-praktik literasi juga terkonstruksi dalam perkembangan budaya, dan seperti fenomena budaya lainnya, praktik-praktik literasi bisa dirunut hingga ke masa lalu. Literasi tentu memiliki peran dalam kehidupan setiap individu, dan praktik-praktik literasi yang dilakukan tentu juga akan berubah secara dinamis seiring perubahan hidup dan masyarakt sekitarnya, dan merupakan hasil dari perubahan tuntutan, sumber yang tersedia, dan juga kepentingan serta minat individu tersebut. Dengan demikian, literasi menjadi bagian dari sejarah perkembangan tiap individu.

 

  • Praktik literasi selalu berubah, dan praktik literasi baru seringkali diperoleh melalui proses pembelajaran dan pembentukan makna yang informal.

Diperlukan pemahaman mendalam bahwa literasi sangat erat hubungannya dengan kegiatan sehari-hari. Dalam hal ini literasi tidak hanya berpusat pada kegiatan membaca dan menulis saja. Ada tujuan lain yang ingin diraih dengan bantuan kegiatan membaca dan menulis, dan tujuan ini berkaitan erat dengan hubungan sosial yang lebih luas. Dalam pandangan sosial, literasi tidak hanya berfokus pada pada kemahiran individu dan penggunaan keterampilan tersebut, namun lebih pada bagaimana memanfaatkan praktik literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Praktik-praktik literasi akan memberikan makna dan fungsi tersendiri bagi pelakunya, bergantung kepada tujuan akhir yang akan diraih dan juga relasinya dengan orang-orang yang terlibat di dalam praktik tersebut. Literasi sebagai praktik sosial memiliki berbagai fungsi diantaranya untuk mengatur kehidupan sehari-hari, komunikasi personal, kesenangan pribadi, dokumentasi kehidupan pribadi, pemaknaan diri dan lingkungan dan juga sebagai partisipasi sosial.

Dalam bukunya yang lain, Barton dan Hamilton (1998: 248-250) memaparkan beberapa contoh bagaimana literasi bisa membawa berbagai macam makna dan fungsi bagi kehidupan pelakunya.

  1. Organising life (mengatur kehidupan sehari-hari)

Dalam mengatur hidup dan segala aktivitas yang ada didalamnya, seseorang pasti tidak akan terlepas dari praktik literasi. Misalnya: mencatat jadwal kuliah, membuat catatan-catatan tugas, mencatat nomor-nomor penting di buku telefon, menulis dan membalas email, mencatat resep dari majalah/website, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dilakukan secara individual dan menyangkut kepentingan pribadi. Namun, ada praktik literasi lain yang berhubungan dengan keluarga, komunitas, atau institusi resmi dalam masyarakat, misalnya mengisi form transfer bank atau mengisi rincian pajak. Dalam hal ini dibutuhkan pemahaman terhadap bentuk literasi lain, yaitu yang berhubungan dengan birokrasi.

 

  1. Personal communication (komunikasi personal)

Menulis surat, membalas email, mengirim kartu ucapan, atau sekedar menempel catatan kecil kepada teman menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Surat, email, dan kartu ucapan tersebut merupakan bentuk komunikasi personal yang menggunakan bentuk literasi di dalamnya.

 

  1. Private leisure (kesenangan pribadi)

Literasi dapat berfungsi sebagai bentuk kesenangan pribadi, misalnya jika seseorang hobi membaca. Baginya membaca merupakan cara untuk bersantai dan menghabiskan waktu. Bentuk kesenangan pribadi lain melalui literasi misalnya kegemaran untuk menulis. Kegiatan menulis bisa menjadi sarana menuangkan ide dan gagasan.

 

  1. Documenting life (dokumentasi kehidupan)

Setiap orang menjaga catatan dalam kehidupannya dengan banyak cara, misalnya menyimpan dokumen penting (akta kelahiran, sertifikat penghargaan, ijazah), menyalin resep-resep masakan yang akan dicoba, menulis jurnal atau buku harian, dan lain sebagainya. Kegiatan ini bisa dilakukan secara individual untuk kehidupannya sendiri, atau untuk orang lain, misalnya mendokumentasikan kehidupan orang-orang penting, dan akhirnya dibukukan dalam bentuk biografi, yang mungkin akan berguna bagi sekelompok orang atau masyarakat yang lebih luas.

 

  1. Sense making (pemaknaan diri dan lingkungan)

Praktik literasi bisa dilakukan atas dasar kesenangan pribadi atau karena tuntutan keadaan. Misalnya seorang calon ibu biasanya memiliki ketertarikan pada informasi-informasi seputar kehamilan dan bayi. Dia akan memanfaatkan berbagai  sarana dan media untuk melengkapi pengetahuanya tentang hal tersebut, dan kegiatan ini melibatkan praktik literasi. Dalam hal ini termasuk praktik literasi. Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, maka seiring berjalannya waktu dia akan menjadi ‘local expert´untuk topik ini dan dia akan memiliki pemahaman lebih tentang hal ini dari pada orang yang belum pernah hamil dan memiliki anak. Sehingga pada akhirnya dia akan familiar dengan topik tersebut dan siap jika terjadi masalah yang berhubungan dengan hal itu dan bisa menemukan solusi untuk orang lain yang mengalami hal serupa.

 

  1. Social participation (partisipasi sosial)

Dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial, manusia tentunya berperan serta dalam kegiatan sosial, baik dalam grup kecil misalnya keluara, atau lingkungan yang lebih luas misalnya grup dan komunitas. Partisipasi sosial ini bisa melibatkan literasi dalam banyak cara.  Misalnya menghadiri pertemuan RT atau rapat karang taruna, menulis surat terbuka, menandatangani petisi lingkungan hidup di Facebook, menggambar grafiti atau memasang poster pengumuman, atau kegiatan lain yang mewakili dan berhubungan dengan suatu grup tertentu. Bahkan tidak jarang dari satu praktik literasi akhirnya terbentuk suatu komunitas sosial tertentu, seperti komunitas blogger, perkumpulan pembaca buku JK. Rowling, dan lain sebagainya.

 

 

Pembelajaran dan pemeroleh makna bisa didapat tidak hanya pada pendidikan formal, tapi juga bisa diperolah dari pengalaman hidup dan literasi menjadi bagian dari pembelajaran tersebut. Setiap individu harus menyadari bahwa literasi menjadi aspek penting dari proses pembelajaran tersebut dan praktik-praktik literasi menjadi bagian dan memberi pengaruh dalam proses pembelajaran.

 


Last modified: Monday, 6 September 2021, 1:35 PM