Informasi merupakan sebuah entitas yang berpotensi untuk menjadi sebuah kekuatan sekaligus sumber kebingungan bagi banyak orang. Setiap hari kita ditantang untuk berhadapan dengan informasi yang melimpah ruah dan melaju dengan kencang, dalam berbagai format yang terhitung pula jumlahnya. Keterampilan dasar dalam melek informasi yang tidak lain adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dari berbagai sumber secara efektif, menjadi sebuah keahlian yang teramat penting dan harus dikuasai oleh semua pihak baik pustakawan maupun pengguna.
Selanjutnya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, solusi yang tepat adalah segera akses ke perpustakaan merupakan alternatif sebagai sarana mendukung literasi informasi tersebut. Padahal seseorang yang datang ke perpustakaan juga dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang beraneka macam bentuk dan kemasannya. Selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana kita dituntut untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat dengan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, sehingga dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.
Selain itu keputusan yang kita ambil akan menjadi baik tergantung pada bagaimana informasi itu bisa kita peroleh secara tepat. Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah literasi informasi (information literacy). Literasi informasi dapat diistilahkan juga dengan istilah ’melek informasi’. Bahkan di berbagai pertemuan/forum ilmiah juga sering didiskusikan mengenai literasi informasi ini. Oleh karena itu, dalam rangka menanggapi kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan kompleks serta untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat informasi, maka kita memerlukan adanya literasi informasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup.
Saat ini di perpustakaan sebagai sarana pendukung literasi informasi ada banyak sekali sumber media yang bisa kita akses. Misalnya: perpustakaan selain menyediakan media cetak yang berupa buku, jurnal, majalah, surat kabar, juga menyediakan media noncetak seperti radio, televisi, internet maupun berbagai jenis bentuk multimedia lainnya. Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Maksudnya bahwa literasi informasi tidak akan sempurna tanpa kehadiran perpustakaan yang memadai. Namun pernahkah kita sadari bahwa keberadaan perpustakaan yang menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu ternyata membawa dampak yang sangat positif dan sangat membantu literasi informasi bagi masyarakat.
Konsep literasi informasi Pertama kali di perkenalkan oleh Paul Zurkoweski (President information Association) pada tahun 1974, ketika ia mengajukan sebuah proposal kepada the national Commission on Libraries and information Science (NCLIS),USA. Zurkoweski menulis:
“People trained in the aplication of information resources to the work can be called information literate. They have learned techniques and skill for utilizing the wide range of information tools as well as primary sources in molding information solutions to their problems”
Merujuk pada tulisannya dapat di artikan orang-orang yang dilatih dalam mengaplikasikan sumber-sumber informasi untuk pekerjaan mereka dapat disebut dengan information literate (terpelajar dalam memanfaatkan informasi), mereka belajar teknik dan kemampuan dalam memanfaatkan keluasan perangkat informasi sebagaimana pemanfaatan sumber utama dalam mencari pemecahan masalah yang dihadapi.
Beberapa pandang yang berkaitan dengan jenis literasi, yaitu literacy yang berkaitan dengan melek huruf, oral literacy ketidakpahaman isi yang disampaikan, technology literacy teknologi yang digunakan untuk mendukung literasi, kemudian aliteracy yang menggambarkan ketidak membacaan masyarakat. Munculnya beberapa istilah yang berhubungan dengan literasi karena beberapa faktor :
Pertama, dilihat dari aspek bahasa. Penggunaan beberapa istilah literasi, merupakan cara yang digunakan untuk memudahkan dalam menggambarkan atau memaknai terhadap istilah tersebut mengenai makna yang terkandung dalam.
Kedua, dilihat dari aspek estimologi. Dimana perkembangan atau asal muasal istilah literasi merupakan suatu rangkian yang muncul dari istilah yang satu yang pada akhirnya digunakan untuk memaknai istilah yang lainnya.
Ketiga, dilihat dari aspek budaya. Beberapa istilah literasi menunjukan tingkat atau strata suatu masyakat. Dimana tingkat literasi digunakan untuk menggambarkan tingkat peradaban masyarakat suatu bangsa.
Pemahaman literasi informasi sampai saat ini belum ada istilah baku yang menjadi kesepakatan para ahli informasi. Banyak istilah yang digunakan untuk memahami literasi informasi, misalnya dengan pengertian “melek huruf”. Putu Laxman Pendit mengartikan literasi informasi sebagai keberaksaraan. Doyle (1994) dalam Saad (2006), mendeskripsikan information literate: “Person as one who; recognizes that accurate and complete information is the basis for intelligent decision making, recognizes the need for information, formulates questions based on information need, identifies potential sources of information, develops successful search strategies, accesses sources of information including computer-based and other technologies, evaluates information, organizes information for practical application, integrates new information into an existing body of knowledge, uses information in critical thinking and problem”.
Hepworth (1999) dalam Irawati (2005) mendefinisikan information literacy sebagai proses memperoleh pengetahuan terhadap perilaku dan keahlian dalam bidang informasi, sebagai penentu utama dari cara manusia mengeksploitasi kenyataan, membangun hidup, bekerja, dan berkomunikasi dalam komunitas informasi. Sehingga dari beberapa definisi tersebut dapat dikatakan bahwa literasi informasi kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.