Skip to main content
Completion requirements
Perkembangan teknologi digital menyebabkan apa yang dipahami oleh dunia komunikasi sebagai infodemic, sebuah arus deras informasi yang tidak terkontrol dan terjadi merata di seluruh dunia. Persoalannya, tidak semua orang siap dengan infodemic itu. Setidaknya 70 juta pengguna internet di Indonesia sangat mudah mempercayai informasi di dunia maya tanoa melakukan rekonfirmasi atau mengkritisi terlebih dahulu (Kahneman, 2002). Kondisi ini dikenal juga dengan sebutan konektivitas hiper (hyperconnectivity). Kondisi ini melukiskan bagaimana semua piranti berbasis digital akan terkoneksi dan secara tidak langsung mengalirkan semua data dan informasi ke semua lini dengan atau tanpa persetujuan empunya data.

Sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia, perkembangan dunia digital di Indonesia punya dua sisi yang berlawanan dalam kaitannya dengan pengembangan literasi digital.  Di satu sisi mudahnya akses informasi memudahkan kita memenuhi kebutuhan dan rasa ingin tahu, di sisi lain dengan tidak memiliki keterampilan di dunia digital, maka hal ini akan berdampak negatif untuk kehidupan kita. Gister (1997) menyebutkan literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi yang diakses dengan piranti komputer. Informasi tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk dan berasal dari sumber yang sangat luas.

Bawden (2001) menyatakan bahwa literasi digital diartikan sebagai sebagai keterampilan teknis dalam mengakses, memahami, merangkai, dan menyebarkan informasi. Dalam hal inilah Literasi Digital menjadi penting. Literasi digital merupakan kecakapan yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital
Visible groups: All participants
(No announcements have been posted yet.)